Wednesday, August 25, 2010

CROSSING LAKE TOBA TO SAMOSIR ISLAND


My watch showed 1300 when we got to Parapat , kota kecil yang terletak di salah satu  “bibir” danau Toba, jaraknya sekitar 176 kilo meter  dari jantung kota Medan. Kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sekitar 2 kilo dari kota, untuk menikmati pemandangan danau Toba dari “atas” –dan memang pemandangannya "ruaaarrrrrr biasa" kayak iklan extra jos bilang. Luass banget, kayak laut deh pokoknya…
 
 The great Toba lake

Setelah puas “menikmati” danau Toba dari atas, kami melanjutkan perjalanan “turun” ke kota untuk mencari tempat makan, berhubung perut  sudah "keroncongan" dari tadi. Udara dingin sepanjang perjalanan dari Pematang Siantar membuat rasa lapar semakin menjadi-jadi.

Sesampai di kota kami langsung “hunting” rumah makan yang bisa dijadikan tempat untuk memuaskan dahaga dan rasa lapar. Mencari  tempat makan di kota ini tidak terlalu sulit, ada banyak rumah makan disini,dari yang halal sampai yang non-halal. Tapi berhubung hari ini hari Minggu  jadi warung banyak yang tutup. Akhirnya sebuah warung makan di pojok jalan (nama jalannya lupa) menjadi pilihan kami untuk beristirahat.

 Luch time in Parapat

Setelah menikmati makan siang dan melepas lelah sejenak, perjalanan kami lanjutkan menuju pelabuhan penyebrangan ke Pulau Samosir. Ahh..orang bilang kalau berkunjung ke danau Toba belum lengkap rasanya jika tak berkunjung  ke pulau Samosir. Mereka adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan #hallah. Ya, mungkin bisa dibilang pulau Samosir merupakan sentral pariwisata danau Toba. Kami pun berangkat ke pelabuhan. Nama pelabuhannya  kalau tidak salah “Ajibata”.  Mohon dikoreksi jika salah yah ?

Pelabuhan Ajibata : Hiruk-pikuk penumpang ke Samosir

Seperti pelabuhan pada umumnya, sudah pasti banyak truk-truk yang simpang siur, sepertinya truk-truk mengangkut muatan dari Ferry. Di pelabuhan itu banyak rumah dan warung-warung penduduk setempat. Kami pun mencari informasi tentang jam keberangkatan kapal Ferry selanjutnya ke Samosir, yaitu pkl 14.30, how lucky we were!!, hampir saja kami ketinggalan Ferry. Ferry berangkat hanya 2x, dan kami mendapatkan Ferry terakhir. Hanya  "excited feeling" yang ada tatkala pantatku telah kududukkan dengan manisnya disalah satu kursi di deck, hati bergumam "sebentar lagi aku akan melihat pulau Samosir..yayy". Tak berselang lama, Ferry perlahan bergerak meninggalkan dermaga.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit -1 jam untuk sampai ke pulau.  Sepanjang perjalanan kami “sibuk” berfoto-foto dan menikmati keindahan danau Toba…the lake is truly amazing. Lagu bang Tongam Sirait terus terngiang dan terus kunyanyikan dalam hati,….. “come to lake Toba , you will enjoy with us, if you come to our place , a beautiful life you will find ”….Tidak salah bang Tongam menciptakan dan menyayikan lagu ini, karena apa yang digambarkannya  tentang danua Toba didalam lirik lagunya benar-benar sesuai dengan kenyataanya. Lagunya memang benar-benar, sangat amat  PASS! “ #hallah!!
  

TOMOK – SAMOSIR
Voilaaaa….here we are!!  Setelah menempuh kurang lebih 1 jam perjalan dengan Ferry, kami pun menginjakkan kaki di pulau Samosir tepatnya di Tomok. Tomok salah satu kota pariwisata di pulau Samosir disamping Tuk-Tuk.

Setelah “unloading” motor dari  Ferry kami langsung mencari parkiran. Sepanjang jalan dipenuhi toko-toko souvenir, tipikal objek wisata pada umumnya. Benar saja, ternyata  disini emang ada objek wisata. Objek wisata rumah adat Batak (Rumah Bolon) dan sarkopagus raja Sidabutar. Saya sudah tak sabar ingin melihatnya.
Saya terkesan pertama kali melihat  rumah adat Batak “Rumah Bolon ” secara langsung, model bangunannya “agak” mirip rumah adat suku Toraja “Tongkonan”. Bagian atap  melengkung bak perahu. Bedanya rumah adat “Tongkonan” lebih tinggi dan lebih melengkung dibagian atap dan tidak runcing. Sedangkan rumah Bolon  lebih pendek dan tidak terlalu melengkung tapi lebih runcing . Satu lagi kesamaanya, bagian kolong rumah jaman dahulu dufungsikan sebagai tempat memelihara hewan ternak (ex kerbau, ayam dsb). Menarik bukan? Ini foto yang sempat saya ambil. 


Rumah Bolon - Tomok


Bandingkan dengan Rumah Tongkonan ini :

Sedikit mirip bukan,,,semoga gak maksa miripnya yah hehe
PATUNG SIGALE-GALE  DAN SARKOPAGUS RAJA SIDABUTAR 
Setelah melihat-lihat rumah Bolon, masih ditempat yang sama saya diajak teman-teman untuk  melihat patung “sigale-gale” .Patung sigale-gale ini punya cerita sendiri, begini ceritanya :

Dahulu kala ada seorang Raja yang sangat bijaksana yang tinggal di wilayah Toba. Raja ini hanya memiliki seorang anak, namanya Manggale. Pada zaman tersebut masih sering terjadi peperangan antar satu kerajaan ke kerajaan lain. Raja ini menyuruh anaknya untuk ikut berperang melawan musuh yang datang menyerang wilayah mereka. 
Patung Sigale-gale

Pada saat peperangan tersebut anak Raja yang semata wayang tewas   pada saat pertempuran tersebut.Sang Raja sangat terpukul hatinya mengingat anak satu-satunya sudah tiada, lalu Raja jatuh sakit. Melihat situasi sang Raja yang semakin hari semakin kritis , penasehat kerajaan memanggil orang pintar untuk mengobati penyakit sang Raja, dari beberapa orang pintar (tabib) yang dipanggil mengatakan bahwa sang Raja sakit oleh karena kerinduannya kepada anaknya yang sudah meninggal. Sang tabib mengusulkan kepada penasehat kerajaan agar dipahat sebuah kayu menjadi sebuah patung yang menyerupai wajah Manggale, dan saran dari tabib inipun dilaksanakan di sebuah hutan. Ketika Patung ini telah selesai, Penasehat kerajaan mengadakan satu upacara untuk pengangkatan Patung Manggale ke istana kerajaan. Sang tabib mengadakan upacara ritual, meniup Sordam dan memanggil roh anak sang Raja untuk dimasukkan ke patung tersebut. Patung ini diangkut dari sebuah pondok di hutan dan diiringi dengan suara Sordam dan Gondang Sabangunan.Setelah rombongan ini tiba di istana kerajaan , Sang Raja tiba-tiba pulih dari penyakit karena sang Raja melihat bahwa patung tersebut persis seperti wajah anaknya.Nah , begitulah  asal mula dari patung Sigale-gale (Patung putra seorang Raja yang bernama Manggale). 

Ahh aku mulai berfikir adat suku Toraja dan adat suku Batak mempunyai beberapa kemiripan. Jika di suku Batak dikenal patung “sigale-gale” , di suku Toraja juga ada “ tau-tau”. Patung tau-tau juga dibuat oleh keluarga sebagai “foto” dari anggota kluarga yang telah  meninggal. Jaman dahulu tidak ada kamera untuk mengabadikan wajah anggota keluarga yang telah meninggal, maka dibuatlah “tau-tau” nya semirip mungkin.  Kayak ini nih :


 tau-tau 
Nah, pendapat anda gimana ? kurang lebih ada kesamaan, bukan?
Beberapa meter dari patung sigale-gale ada objek wisata berikutnya yaitu “makam /sarkopagus ” Raja Tomok , Sidabutar -yang paling besar. Kuburan ini sudah berumur kurang lebih 500 tahun dan masih terawat dengan baik.

Dibagian kepala sarkopagus ini dibuat besar sebagai simbol raja Sidabutar dan ujung yang lain adalah simbol permaisuri, Boru Damanik.Ada dua buah patung gajah di sisi sarkopagus ini, yang konon semasa hidup raja Sidabutar pernah menghadiahkan kuda kepada raja Aceh karena telah "mengajari" raja Sidabutar berperang tanpa harus membunuh. Nah, sebagai balasan raja Aceh pun memberikan dua ekor gajah. Ini menurut cerita yang saya dengar, mohon dikoreksi jika salah ya :).

Disekitar pemakaman itu juga ada patung-patung kecil membentuk lingkaran dan salah satunya memegang tombak. Dahulu, tempat itu digunakan sebagai tempat upacara/ritual untuk “meminta” hujan dengan mengorbankan seekor kerbau. Kerbau tersebut akan ditombak 7 kali, jika banyak darah yang keluar berarti permintaan akan terkabul, sebaliknya jika tidak ada darah maka permintaan pun tidak akan terkabul. Wah seru juga yah..

Foto-foto nya :
 Sarkopagus Raja Sidabutar - Tomok
Objek wisata Sigale-gale
 Sarkopagus Sidabutar
It's Welly, Rita, Ewis and Me 
 PS : Mohon maaf gambar-gambar agak "buram", yah maklum resolusi rendah di gede-in, beginilah jadinya !

Sebenarnya masih banyak objek wisata di Tomok yang seharusnya kami kunjungi. Tapi sayang, waktu yang sangat “mepet” memaksa kami untuk segera meninggalkan Tomok dan kembali ke kota Medan. Sangat sayang sekali :( … !

Sekitar pukul 1600 kami kembali. Teman-teman masih menyempatkan diri untuk belanja souvenir di Parapat, saya sendiri hanya membeli 2 buah “shall” bertuliskan “Horas” dan bersulamkan “rumah Bolon” disalah satu ujungnya.

But the most important thing was that I had stepped my both feet on the ground of Toba, and I was truly impressed. It’s not what I bought, but what i can remember! Standing on this “land” overlooking the greatest lake Toba "is" more valuable than any souvenirs. 

Next post..visiting Brastagi










Tuesday, August 17, 2010

BUKIT LAWANG, BAHOROK - SUMUT AUG 14th,2010

On this 14th of August ,the next trip was to visit to Bukit Lawang. Bukit Lawang is one of the top destinations in Sumatra, a small village on the edge of Gunung Leuser National Park about 68 kms from the heart of Medan city to the North via Binjai. “Bukit Lawang” means “GATEWAY TO THE HILLS”. This place is famous for the Bohorok Rehabilitation Centre now known as the Orangutan Centre.

We start in Medan at about 11am,it was cloudy and we got to Bukit Lawang at about 2.30pm, I was really happy knowing that we did not miss the feeding session of the Orang Utan which is only twice a day (9am and 3pm). We could possibly miss it,if we came late at the time.
At the top of the village of Bukit Lawang is the Bohorok Rehabilitation Centre which has not operated since the flood (2 November 2003 which have killed 253 people,and 83 people claimed lost). They still have a few orangutan in their care but no new animals are brought in for rehabilitation. You will need to get a permit to enter the National Park. Ask in your hotel as they can arrange the permit, you can arrange it yourself at the PHPA office at the beginning of Bukit Lawang or you can pay for your permit when you cross the river at the Orangutan Centre. Permit costs approximately 20,000Rp.
As soon as we have parked the motorbike,we then took a walk up to a house where people usually buy an entrance tickets,luckily it was closed,we only saw a man were sitting on the chair sleeping and snoring so bad.In this place I call “a house” where we can find/read descriptions of animals we can find in the Leuser Forest. We spend a few minutes in this place. Rain begun to fall. We continued walking to the entrance of Leuser National Park, with firstly have to cross using a cabled-canoe,Rp.5,000- per person.

Continue ascending- I have no idea how many stairs-step- to the Orang Utan feeding site, it took about 10 to 15 minutes walking,and then “voilaaaa….” ,wait a few minutes,the “pawang” begun to call out the Orang Utan by striking a piece of bamboo on the hard surface,the sound will give signal to the Orang Utan and let them know that food is ready:). Now sit relax and enjoy the view of “pawang” is feeding  the Orang Utans with  banana and milk.



How to get to Bukit Lawang
Just a reference for you guys who want to go to Bukit Lawang, I and friends went there with motorbike, however if do not have motorbike , you can also take taxi from the airport and pay approximate Rp.350,000- it depends on how hard you can bargain :) . Note that in Medan it is really hard to find a place where you can rent a motorbike.
There are tourist buses leaving from most towns in North Sumatra to Bukit Lawang. In Medan you have the option of catching a local bus, very large, slow and crowded but very cheap, 15,000Rp. It will take 3.5 to 4 hours in the local bus as it also stops many times along the way to drop and pick up locals. You will need to get a becak or taxi to the bus depot in Medan – Pinang Baris. It will cost around 35,000Rp for a becak. A taxi will cost aroun 70,000 – 80,000Rp from the centre of Medan to get to Pinang Baris Bus Terminal (approximately). You can also take a mini-bus from Pinang Baris for 12,000Rp.
 The mini-buses take around 3 hours to get to Bukit Lawang as they do not stop as many times along the way. The mini-buses do not leave from the main bus terminal. Travel down the road that runs past the bus terminal a few hundred meters and your will find the mini-buses outside the large pastry store (you can’t miss it).
Do not too worry about where to spend the night there, there many accommodation available there starting from budget USD$ 5 – $ 25 /room per night.

Long story short, we then rode back to Medan....arrived in the heart of the city at around 8pm...i felt really sore on my back, down to my butt...gosh it was a long trip. I suggest to just use car if you intend to visit this Bukit Lawang.

Will continue on the next post !!


Saturday, August 14, 2010

Visit MEDAN -NORTH SUMATERA AUG 2010

Hi guys, it’s been a long time…this is the next chapter….!!!
It was about two months in advance that I planned this trip, and it came true on Aug 13th when I took 6 days off until Aug 18th.
The trip was owesome,flied with Lion Air from Ngurah Rai Airport at about 1pm and got to Polonia Airport at about 8pm where I had like 2 hours transit in Jakarta and it was tiring,moreover the weather was rainy and cloudy it caused flights were delayed.
At about 8pm,landed at Polonia Airport,waiting for a couple of minute for my back-pack and went out right away thru’ the exit gate where an absolute cute girl had been standing there and waiting for my coming with a smile,holding an umberella in her right hand,soon I felt so relax:).Thanks for the pick-up dear.
MEDAN AT GLANCE
Medan (Indonesian: Kota Medan) is the capital of the province of North Sumatra,Indonesia. Located in the northern part of the province along the coast, Medan is the fourth largest city in Indonesia, as well as the largest city in the country which is not in Java. The city is bordered by Deli Serdang Regency to the east, south and west, and the Strait of Malacca to the north. It is close to the volcano Sinabung, which erupted from its 400 year dormant state in August 2010.
The city has a mix of communities, reflecting its history. It is famous throughout Indonesia as the home of the Batak people, although, traditionally it is a Melayu Kampung. More recently more and more of the Batak ethnic minority have come to the city to make what was once a minority become a fairly sized community. However, Batak homelands are found throughout North Sumatra. In addition, there is a large ethnic Javanese community, largely made up of the descendants of people transported from Java in the last century as part of the government’stransmigration policy, an attempt to relieve the chronic overcrowding of Java.
A highly visible component of Medan’s population is the large number of Chinese, who are very active in the business sector, and unlike the ethnic Chinese in many other parts of Indonesia continue to speak Hokkien. Finally, the city has a sizable community of Tamil descent who are commonly known as keling. A well-known Tamil neighbourhood is Kampung Keling. In addition to Indonesian, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pak-Pak, BatakAngkola, Batak Toba, Deli Malay, Javanese, Hokkien (Min Nan), Tamil, Acehnese,Minangkabau and English are spoken.
There are many old buildings in Medan that still retain their Dutch architecture. These include the old City Hall, the central Post Office, the Tirtanadi Water Tower, which is Medan City’s icon, and Titi Gantung (a bridge over the railway).
There are several historic places such as Maimun Palace (Istana Maimun) built in years 1887–1891, where the Sultan of Deli still lives (the Sultan no longer holds any official power), and the Great Mosque (Masjid Raya) of Medan built in 1906 in the Moroccan style by the Dutch architect Dingemans.[2]
Since 2005, a catholic temple, in Indo-Mogul style, devoted to Graha Maria Annai Velangkanni (Our Lady of Good Health), is built in Medan. This particular Saint knows its origin with an apparition in the 17th century in India. The temple is an imposant building, of two storeys and a small tower of seven storeys in Indonesian style, that already attracts attention from the main road (it is situated in the small road Jl. Sakura III besides Jl. Simatupang). It is already the second most important pilgrimage place in Asia.
One of the unique features of Medan are the motorized becaks that are found almost everywhere. Unlike traditional becaks, a motorized becak can take its passenger anywhere in the city. The fare of riding a ‘becak’ is relatively cheap and is usually negotiated beforehand.
 Railroad tracks connect Medan to Binjai and Tanjungpura to the northwest, to port ofBelawan to the north, and to Tebing Tinggi and Pematang Siantar to the southeast.The seaport of Belawan is about 20 km to the north. Polonia International Airport is located in the heart of the city. Kuala Namu International Airport is a new airport under construction and is due to replace Polonia in mid-2011.
Well that’s the short introduction about Medan, …On this first day,dinner time..Merdeka Walk is one of the best place to hang out,especially for the youth,opened from 11.00 – 24.00 Monday – Sunday. On Aug 27th, 1945, the Independence of Indonesia Republic was officially announced here, that is why this place becomes one of the historic place in Medan, and then called “Lapangan Merdeka”. It was rainy when we got to this place, and finally Pizza was chosen for the dinner! From the Airport, we took a taxi for IDR 20.000,-.
After dinner, we continued to Jl.Pancing, where I stayed with my girlfriend’s brother. From Merdeka Walk we took a Becak Motor for IDR 30.000,-.
That’s the end of the first day. The next trip was a visit to Bukit Lawang (The Rehabilitation Center of the Orang Utan) on Aug 14th.

Friday, April 30, 2010

"BEKPEKING" KE LOMBOK (BAG 3) - SENGGIGI - BANGSAL - MATARAM- BALI



Maret 16,2010 SENGGIGI - BANGSAL - PUSUK - MATARAM

Suasana New Moon Hotel yang sejuk dengan halaman dipenuhi bunga dan rumput hijau sedikit berkontribusi mengobati rasa  lelah kami hari ini , walaupun kondisi kamar beserta amnitiesnya  sangat-sangat “average” dan tipikal hotel budget banget. Hotel ini berlokasi tepat dipinggir jalan raya Senggigi  yang sekaligus  adalah jalur utama untuk menuju Lombok Utara. 

Pagi ini , kami terbangun pukul 8 dan segera bersiap  untuk  perjalanan selanjutnya. Walaupun sebenarnya kami masih belum tahu kami akan kemana  #gubrakk. Sambil memikirkan destinasi selanjutnya, kami memilih bersantai sejenak di balcony untuk menikmati suasana pagi yang adem-adem empuk ditemani secangkir kopi, sedaaapp!. Diskusi kami menghasilakan  keputusan untuk menuju ke Lombok Utara hari ini. 
RUTE HARI INI
Setelah  menikmati roti panggang  plus  salad buah sebagai sarapan dan sekedar pengganjal perut, kami segera check out, lebih awal dari normal jam check out (1200)  dan tujuan kami yang pertama adalah ke Bangsal (Pemenang). Bangsal adalah pelabuhan penyebrangan ke trio pulau tercantik yang ada disini : Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Kami ingin melihat kesana, dan jika memungkinkan akan melanjutkan perjalanan ke Gili Terawangan.

Pemandangan sepanjang  jalan  menuju Bangsal lumayan menghibur hati.I was continuously turning my head to the left where I could see the view of great blue ocean spreading widely from north to south. It was so freakin’ awesome. Perjalanan memakan waktu – menurut om gugel – hanya berkisar setengah jam , tapi buat kami kurang lebih satu setengah jam. Yah, mungkin karena kami terlalu asik berhenti sana- sini untuk potret memotret. Tapi itulah inti dari perjalanan dan gunanya punya kamera.
Pemandangan ke Gili

Kami tiba di Bangsal sekitar siang, dan langsung bergegas untuk melihat pelabuhan kecil ini. Hmm..so this is it.  Tampak beberapa kapal sedang menuggu penumpang ke Gili. Kapal yang digunakan sejenis kapal motor yang panjang dan  bermuatan kurang lebih 10 – 15 orang, dan dengan membayar hanya Rp 10,000 (one way) anda sudah bisa menikmati indahnya Gili Terawangan. Disini juga tersedia fasilitas parkir  kendaraan.  Jadi anda dapat menitipkan kendaraan anda disini (mobil/motor) dan berangkat ke Gili Terawangan selama satu atau dua malam. Selain ke Gili Terawangan, pelabuhan ini juga menyediakan jasa  penyebrangan ke pulau-pulau terdekat seperti Gili Air, Gili Meno.  

Yang tadinya kami berencana untuk menyebrang ke Gili, tapi setelah menimbang-nimbang dan memperhitungkan sisa liburan kami, kami memutuskan untuk mengurungkan niat suci ini #hallah. Sisa waktu kami disini tinggal sehari yaitu hari ini dan kami harus sudah berada di Bali untuk melanjutkan rutinitas (bekerja) pada Rabu . Sedih memang  tapi yah could not do anything! We could not force to go! Jadi inti perjalanan, kami ke Bangsal hari ini  adalah untuk “menonton” sambil  #MUPENG , orang-orang naik kapal dan menuju Gili untuk bersenang-senang. Hadehhh!

Setelah beristirahat , kami bergegas meninggalkan Bangsal dan menuju Mataram melalui jalan raya Pusuk where we passed monkeys on the way. Jarak tempuh sekitar  satu jam. For this last night kami akan mencari penginapan disana saja agar lebih dekat ke pelabuhan Lembar. 
RUTE BALIK

Kami tiba kembali di kota Mataram pada sore hari dan langsung hunting hotel. Kami menjatuhkan pilihan ke Hotel Mataram yang berlokasi di jantung kota Mataram sendiri.Selain karena harganya murah,suasana dan kondisi kamar juga lumayan bagus.  Harga per malam Rp. 250,000 termasuk sarapan. Berhubung kami sudah sangat kelelahan , tidak ada lagi program setelah ini selain tidur dan menunggu gelap untuk mencari makan.  Another wasteful day, but still no reason to regret. 

Balcony

Hotel Mataram "kinclong"

Maret 17, 2010 PELABUHAN LEMBAR - PADANG BAI

Kami bangun lebih pagi dan menyiapkan diri untuk segera check out dari Hotel Mataram untuk berburu Ferry ke pelabuhan Lembar. Lebih cepat berangkat, lebih cepat sampai di Bali.  Yes, today is the last day and this trip is soon over.  Setelah sarapan, kami check out dan menuju ke pelabuhan Lembar. Sejujurnya, saya sebenarnya masih ingin bersantai dan  berleha-leha sejenak  karena “lelah”dari perjalan kemarin masih tersisa sedikit di persendian. Tapi apa daya si kawan memutuskan untuk berangkat segera, dan saya pun harus ikut.
OCEAN AND MOUNTAIN

CAN YOU IMAGINE IF ONE DAY A BIG CRUISE SHIP DOCKED HERE :)

LEMBAR HARBOUR

A LIFE IN THE OCEAN

Sekitar pukul setengah sembilan kami go-show di  pelabuhan dan segera mencari tiket ke Padang Bai. Akhirnya setelah didapatkan, kami tidak harus menunggu lama sampai akhirnya para penumpang mulai satu persatu memasuki  Ferry bersama kendaraan masing-masing. Setelah memarkir motor di tempat yang ditunjukkan, saya dan Herman segera menuju dek untuk bersantai. Perjalanan ini memang benar-benar menguras tenaga. Tapi saya bersyukur karena selama berada di Lombok , kami tidak pernah merasakan hujan sedikitpun. Tak dapat dibayangkan jika seandainya selama tiga hari hujan mengguyur, perjalanan akan benar-benar terhambat dan sangat-sangat lebih  tidak asik. 

Di perjalanan pulang, hati saya terhibur menyaksikan parade segerombolan lumba-lumba menari, meloncat dan ber atraksi bak di sirkus…….so cute!

DOLPHINS AND OCEAN

Jadi seperti yang saya sebutkan di awal bahwa cerita  perjalan saya dan teman saya ke Lombok ini bukanlah membahas tentang indahnya pantai dan putihnya pasir Gili Terawangan, atau pengibaran bendera di puncak Rinjani atau menikmati spa di hotel bintang di Lombok dsb. Ini lebih kepada cerita bagaimana kami "menikmati" Lombok dengan cara kami sendiri  dan dengan sukses melewatkan perkunjungan ke tempat-tempat yang sebenarnya lebih penting daripada sekedar  “menteposkan” pantat di motor dan spent quite a lot money  for accommodation.  

Dan inti ter-inti daripada cerita ini adalah : PLAN AND RESEARCH ARE THE MOST IMPORTANT THINGS TO DO BEFORE TRAVELLING – “Perencanaan (yang matang) dan riset (tentang tujuan) adalah hal terpenting yang harus dilakukan sebelum melakukan sebuah perjalanan”.

Kami menginjakkan kaki di pelabuhan Padang Bai sekitar pukul 1300..

This is my first time visiting Lombok and I don’t know when I will be returning. I truly wish to climb the peak of Rinjani or bathing in Gili..