Friday, January 25, 2013

BERTEMU "YAKI" DI TANGKOKO


TANGKOKO atau yang di media lebih sering ditulis “Tangkoko Nature Reserve” adalah cagar alam yang berlokasi kurang lebih 60 km dari ibu kota Sulawesi Utara, Manado atau 20 km dari kota pelabuhan, Bitung. Untuk sampai kesana dibutuhkan kurang lebih 3 jam dari kota Manado, atau 1 jam dari kota Bitung. Rutenya cukup menantang, ruas jalan agak sempit,permukaan jalan juga tidak mulus, banyak yang bolong sana sini. Lumayan menantang. 
Tangkoko1
Lokasi Tangkoko Nature Reserve
Tangkoko 2
Detail
Kenapa disebut Tangkoko? Karena cagar alam ini berada di area gunung Tangkoko (1,109m). Selain gunung Tangkoko cagar alam ini juga diapit oleh gunung Batuangus (1,100m) di timur laut dan gunung Dua Saudara (1,351m) di selatan. Luas keseluruhan Taman Nasional ini kurang lebih 8,745 hektar yang terdiri dari Taman Nasional Batuputih seluas 615 hektar yang sekaligus merupakan “entrance gate” ke Tangkoko dan sering dipakai untuk perkemahan,Taman Nasional Tangkoko Batuangus seluas 3,196 hektar,Taman Nasional Tangkoko Dua Saudara seluas 4,299 hektar dan Taman Nasional Batuangus 635 hektar yang terletak di antara kawasan Tangkoko dan Desa Pinangunian. Kawasan hutan lindung ini merupakan rintisan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1919.

Keistimewaan dari cagar alam ini adalah bahwa “-as documented by scientists – disini terdapat 26 spesies mamalia 10 diantaranya endemik Sulawesi, 178 spesies burung- salah satu diantaranya yang terkenal dan sangat langkah adalah Maleo (Macrocephalon Maleo)- 15 spesies reptil (i.e ular sanca,kobra etc), dan lebih dari 200 spesies tanaman. 

Well, at the very first, jujur sejujur-jujurnya saya benar-benar tidak pernah tahu menahu tentang Tangkoko selama 23 tahun (1986-2007), apalagi ditambah embel-embel Nature Reserve-nya – ya maklum dari kampung haha – sampai saya ke Manado dan bekerja disana. Karena tiap hari saya harus mempelajari produk-produk yang dijual perusahaan, ya akhirnya saya “baru ngeh” jika ternyata di Manado ini ada yang namanya cagar alam Tangkoko (Tangkoko Nature Reserve) yang merupakan cagar alam tujuan favorit wisatawan-wisatawan asing bahkan ilmuwan pun sudah pernah kesini untuk melakukan penelitian, sebut saja “the father of biogeography” Alfred Russel Wallace di tahun 1861.

Tangkoko is right in front of your face, on the tip of your nose and stick to your forehead  now, Jerry!Where have you been? Mungkin benar kata orang-orang bijak, keluarlah dari tempurung , maka wawasanmu akan bertambah.

Nah,di kunjungan ke  Tangkoko kali ini, saya kembali mendapat kehormatan besar dari kantor untuk menjadi “guide” bagi dua orang tamu kami kakak ber-adik dari USA namanya Mr.Frank dan Ms.Jane yang berprofesi sebagai guru di California. Kesempatan yang sangat saya tunggu-tunggu, untuk menuntaskan rasa penasaran saya akan cagar alam Tangkoko.
Tangkoko Frank Jane
Me with Frank & Jane berlatar "rumah" Tarsius
Jika sebelumnya saya selalu “super galau” jika ditunjuk sebagai pemandu wisata karena keterbatasan pengetahuan tentang objek wisata dan segala detil-detilnya -cape deh!!- , namun kali ini sepertinya saya sedikit terbantu karena driver-nya adalah Pak Freddy. Pak Freddy adalah tipe humoris,bahasa inggris lumayan bagus dan mengenal medan, secara dia adalah penduduk asli plus sudah tak terhitung jari jam terbangnya ke Tangkoko memandu wisatawan asing, jadi dia bisa membantu menjelaskan sedikit-sedikit. Walaupun saya lumayan terbantu dengan keadaan ini, tetapi saya tetap dengan  misi khusus yaitu : mendengarkan cara pak Freddy menjelaskan ke tamu dan merekam semua informasi penting yang dibicarakan. 

Kami meninggalkan kota Manado menuju Bitung sekitar pukul 2 siang. Ya, untuk tour ini sangat disarankan berangkat sore sekitar jam 1-2 dari Manado dengan perkiraan bahwa anda akan tiba di Tangkoko Nature Reserve sekitar jam 5 sore. Alasannya tentu saja tidak lain dan tidak bukan karena anda akan diajak untuk menyaksikan –dan tak boleh anda lewatkan- “penampakan” primata ter-kecil dan ter-langkah sejagat raya yaitu Tarsius ,si hewan “nocturnal” yang menghabisakan waktunya untuk tidur dan bermalas-malasan di siang hari dan hanya akan keluar sarang jika hari sudah mulai gelap untuk mencari makan. Yap,tepat sekali, alasan saya “ngebet” ke Tangkoko adalah karena ingin menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana rupa si “imut” ini (Tarsius).

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di pintu masuk ke cagar alam ini, Batuputih. Seperti kawasan wisata pada umumnya, disini juga tersedia akomodasi. Tentu saja akomodasi ini diperuntukkan bagi wisatawan yang melakukan “Tangkoko Overnight Tour” yang berarti tur nya lebih ekstrim lagi karena meng-eksplorasi hutan lindung ini saat subuh sampai matahari terbit untuk sekedar berburu photo hewan-hewan malam atau lebih seringnya mencari “penampakan” burung Maleo atau menunggui si Tarsius pulang kandang.

Jangan khawatir jika anda mengunjungi Tangkoko tanpa pemandu,karena disana sudah disediakan “forest ranger” yang tugasnya tentu saja bukan untuk menjelaskan “ini-itu” tetapi lebih kepada: membawa anda berkeliling, membawa anda ke tempat-tempat yang penting untuk dilihat dengan aman dan untuk menghindari acara nyasar atau dikeroyok Yaki­­ LOL!. Biaya ranger sudah termasuk kedalam “entrance fee” yaitu sekitar Rp.75,000,- per orang (domestik), dengan 1 orang ranger maksimal memandu 2 wisatawan. Tapi untuk kami, cukup 1 ranger. Jika anda mengurus tur melalui tur agen lokal, harga berkisar antara Rp.1,000,000,- per orang (maks 2 orang) –approximate- termasuk: mobil,supir,tiket masuk,ranger,dinner,gratis penjemputan di hotel area Manado.

**jangan lupa memakai sepatu,celana panjang,membawa senter dan kamera,memakai losion anti-serangga.

Setelah membayar entrance fee, tanpa ba-bi-bu kami langsung tancap gas mengikuti langkah si ranger. Si Frank dan Jane kelihatan sangat excited dengan tour ini, saya mengikuti mereka dari belakang sambil sesekali bercakap,sementara pak Freddy sudah didepan. 

Tangkoko Yaki
Yaki (celebio.org)
Tangkoko Nature Reserve ini juga merupakan rumah bagi Black Crested Macaque sejenis kera hitam legam berambut mohawk dengan pantat seksinya yang kemerahan, orang setempat menyebutnya Yaki. Yaki adalah kera asli Sulawesi Utara dan hanya dapat anda lihat di Tangkoko, tidak ditempat lain. Populasinya terancam karena terus diburu. Sekitar 30 menit berjalan, kami sudah dapat mendengar suara Yaki bersahut-sahutan dan bergerombol, meloncat dari pohon ke pohon, sedikit menyeramkan memang. Oh ya, anda juga harus mewaspadai serangga sejenis gonone, biasanya bersarang di batang kayu lapuk. Jika terkena gigitannya, akan menimbulkan bentol-bentol merah,sangat gatal bahkan bisa berbekas hingga berminggu.

Setelah puas berkeliling entah kemana saja, segera kami dibawa oleh sang ranger ke salah satu pohon yang lumayan tinggi dan berbatang besar. Pohon ini merupakan rumah favorit si imut, pohon beringin yang berongga spesies Ficus. Dan benar saja, teryata bukan cuma kami ber-empat yang hadir dan “ngabsen” di pohon ini, wisatawan lain pun sudah mulai berdatangan satu per satu untuk melihat pertunjukan spektakuler. 

Momen yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Jenggg…jenggg! Si imut pemalu ini pertama-tama hanya mengintip dari balik lubang pohon karena sadar bahwa orang-orang sudah menunggu kemunculannya - everybody was so excited- dan ber H2C. Akhirnya, si imut baru berani keluar setelah si ranger memancingnya dengan makanan kesukaannya : belalang. PENAMPAKAN YANG SEMPURNA!!
Tarsius
"si imut" Tarsius

TARSIUS/Tarsier adalah sejenis primata terkecil di dunia dan hanya bisa ditemukan di Asia. Besarnya kira-kira sekepal tangan,matanya besar sekepala yang konon sebesar otaknya. Sifatnya pemalu, berwarna coklat muda, kelima jarinya yang panjang memungkinkan menempel erat pada cabang-cabang pohon. Apabila Anda perhatikan jari-jari tersebut memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar. 

Did you know?
  • Ada 9 jenis Tarsius di dunia, dan itu hanya bisa ditemukan di Asia. 2 spesies diantaranya terdapat di Filipina dan 7 lainnya terdapat di Indonesia (Sulawesi).
  • Dua jenis paling terkenal terdapat di Indonesia yaitu Kera Hantu (Tarsius Tarsier) dan Tarsius Kerdil (Tarsius Pumilus/Pygmy Tarsier).
  • Tarsius memiliki kepala yang bisa diputar 180 derajat, berjenis darah O seperti pada manusia dan memiliki frekuensi suara paling tinggi diantara mamalia darat yaitu 91 khz (ultrasonik).
  • Rata-rata Tarsius memiliki panjang antara 10-15cm dengan berat 80gram dan dapat melompat sejauh 3 meter dari pohon ke pohon.
  • Tarsius Pumilus merupakan jenis Tarsius terkecil dengan panjang tubuh antara 93-98mm dan berat 57 gram.
Setelah puas menyaksikan si imut Tarsius, tur berakhir dan waktunya kembali ke pos karena keadaan sekitar semakin gelap. Setibanya di pos kami beristirahat sejenak dengan senyum kepuasaan dan kemudian bersiap-siap untuk kembali ke kota Manado. Diperjalan pulang kami singgah dikota Bitung untuk makan malam. Frank & Jane begitu terkesan dengan tour ini sehingga saat makan malam pun kami diajak untuk duduk bersama,bercanda dan ngobrol tentang berbagai hal.

For me myself, pengalaman tur dan memandu ke Tangkoko adalah pengalaman paling berharga. Selain karena saya mendapatkan banyak informasi tentang cagar alam ini sendiri, juga karena saya dapat menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri penampakan “si artis” Tangkoko Nature Reserve, Tarsius yang tidak ada di Eropa atau Amerika, tapi disini di Indonesia. Sayangnya, saya tidak sempat melihat satwa-satwa lain sperti burung Maleo, Rangkong dsb.

Namun cukup sedih juga mengetahui jika populasi Yaki (penghuni asli hutan Tangkoko) semakin terancam. Program konservasi “Save the Yaki – Selamatkan Yaki” yang sudah berlangsung beberapa tahun ini bekerja sama dengan grup konservasi dari Thailand, Jerman dan “Wildlife Conservation Society” berbasis di USA , diharapkan bisa membantu mencegah kepunahan dan menjaga kelangsungan hidup satwa asli kita ini. Yah, setidaknya masih ada yang dapat kita “pamerkan” dan banggakan ke orang-orang barat diluar sana.  

Artikel terkait :




Tuesday, January 22, 2013

MENJADI PEMANDU KE GUNUNG MAHAWU -MANADO


MAHAWU adalah nama sebuah gunung vulkanik di kota bunga Tomohon, Sulawesi Utara. Gunung ini termasuk kedalam tipe “stratovolkano” atau gunung vulkanik yang terbentuk dari lava dan abu vulkanik yang mengeras. Tingginya 1,324m atau 4,434 kaki dari permukaan laut. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1jam 30 menit dari kota Manado melalui rute Samrat-Pineleng- dan seterunya mengikuti arah jalan ke Tomohon.

Rute Mahawu
Topografi Mahawu
RUTE KE MAHAWU
 Saya pertama kali menginjakkan kaki di gunung ini pada tahun 2008 lalu (udh lama banget), tapi tanggal dan bulannya sudah resmi terhapus dari ingatan, intinya udah pernah kesana lah. Jika ada pertanyaan:kenapa ceritanya baru dipost di blog sekarang? Ya karena semangat untuk nge-blog baru “menyala” 2 tahun silam haha.

Nah lucunya, jika orang-orang berkunjung ke sana sebagai wisatawan/pelancong yang membayar untuk itu, saya justru tidak sebagai wisatawan melainkan sebagai guide atau pengantar wisatawan- hehe just my luck

Yap,kurang lebih setahun saya merasakan bekerja di kota tinutuan Manado. Saya bekerja disalah satu PT yang bergerak dibidang usaha perjalanan wisata (baca: Tours & Travel) di jalan Samrat sebagai staf reservasi yang tugas kesehariannya berkoresponden ria dengan calon tamu melalui surat elektronik (baca:email) untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka seputar aktifitas wisata atau membantu mereka untuk merencanakan perjalanan wisata mereka khususnya wisata ke Manado. 

Awal dari perkunjungan saya ke gunung Mahawu adalah ketika pada suatu hari (lupa tepatnya hari dan tanggal berapa) saya  menerima email dari seorang calon tamu namanya Mrs Marie. Mrs.Marie dan suaminya Mr.Eddy adalah expatriat berkebangsaan Perancis dan berdomisili di Balikpapan, Kalimantan. Mereka berencana untuk berwisata ke Manado dan kebetulan memilih perusahaan kami untuk mengatur perjalanan mereka. Setelah berkoresponden dan tawar menawar akhirnya mereka mengambil tawaran kami untuk program tour dan akomodasi satu malam. Mereka memilih salah satu produk kami yaitu “Mahawu Volcano Trek + drop off service” ke salah satu resort di selatan Manado.

Singkat cerita, tour-nya telah dijadwalkan hari minggu, dan biasanya untuk urusan tour kami selalu menyewa freelance guide. Tapi entah kenapa semua guidenya pada sibuk waktu itu. Karena tidak ada yang bisa dijadikan guide, jadilah saya yang ditunjuk sebagai guide dadakan – memang benar-benar rejeki saya sepertinya-. Rejeki sih rejeki, tapi sempat kaget juga, pasalnya saya bener-bener nihil informasi mengenai gunung Mahawu, apa yang mau dijelasin? pikirku. Alhasil, sehari sebelum tour saya harus begadang mencari referensi/informasi di om gugel tentang apa-apa yang harus saya jelaskan ke tamu. 50% bahagia karena akan mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi, 50% tidak konfiden dengan informasi yang akan saya berikan ke tamu.

Tapi thanks to om gugel, akhirnya setelah browsing dan mendapatkan tambahan informasi, percaya diri saya naik dari -0% menjadi 85%, 15% sisanya lagi do’a, semoga tamu yang akan saya pandu ini tidak bertanya hal-hal yang saya tidak tahu,bisa mampus berkeping-keping– hah!! guide macam apa nih?-

Akhirnya, pagi itu saya dan supir menjemput Mr Eddy dan Mrs Marie di hotel,kebetulan hotelnya berseberangan dengan kantor kami. Setelah meet & greet dicampur sedikit basa basi, tour pun di mulai- Wow surprised!!Ternyata, they  were a small family with 2 kids. Nama anaknya Julie dan Margot (baca:Margo). The kids were so cute.
 
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perjalanan memakan waktu sekitar 1jam 30 menit. Setibanya di perkebunan sayuran Tomohon, kami harus memarkir L-300 dan memulai trekking melalui jalan setapak menuju puncak gunung, ya namanya juga Mahawu trek, ya harus jalan kaki dong. Sebenarnya pos 1, masih dapat diakses dengan kendaraan roda empat, tapi demi “men-dramatisir” trekking,tamu di drop di persimpangan dan diajak berjalan kaki saja.

Berjalan kaki sekitar 30 menit akhirnya tibalah kami di pos 1 gunung Mahawu, dan tinggal sedikit lagi untuk sampai ke puncak. Menurutku, Mahawu trek ini bukanlah jenis aktifitas ekstrim,mungkin lebih cocoknya disebut “soft adventure”. 

Mahawu
Menggendong si Margot


Ketika kami sampai di puncak, kami hanya perlu berjalan mengelilingi bibir gunung dengan pemandangan kawahnya, namun sialnya jalan setapak yang harus dilalui untuk mengelilingi kawah ditumbuhi rumput-rumput liar yang tingginya melewati kepala dan anda harus berjuang menemukan jalan dengan susah payah karena rumput yang sangat amat lebat. Belum lagi,diantara semak itu terselip helai-helai rumput “predator” yang sudah siap menyayat kulit anda jika tidak berhati-hati.
Gunung Mahawu
Beautiful Julie was waiting for her dad,while Margot was crying
Tugas saya untuk menjelaskan objek sedikit terbantu oleh rewelnya si Julie dan Margot, mereka membuyarkan konsentrasi orang tua mereka untuk bertanya, dengan merengek-rengek karena ingin cepat pulang,sepertinya mereka kecapekan. Hahayy…alangkah senang hatiku. Seingatku, cuma luas kawah dan tahun terakhir erupsi yang saya jelaskan :

“Sir, the height of this mountain is 1,324m from the sea level, with 180m wide and 140m deep. The small eruption recorded happened in 1789”….saya menjelaskan sambil menggerak-gerakkan tangan bak guide pro, padahal informasinya didapat dari om gugel wkwkwkw –gila-..
Mahawu Mount
what a cute kids!!!
Selebihnya,saya menyibuk-kan diri mencari jalan untuk tembus ke sisi sebelah gunung dan menggendong si bungsu Margot yang lebih rewel dari kakaknya, sambil berdoa dalam hati “please,no more questions” hahaha…..

Finally, setelah tembus ke sisi gunung dengan susah payah dan kembali ke starting point, dan hasilnya lengan kanan saya terasa kram karena menggendong si Margot plus perih di kulit tangan dan kaki karena disayat rumput sejenis alang-alang. But overall saya senang bisa dekat dengan si Margot, she’s so cute. Kami beristirahat sejenak dan si Margot sudah mulai lebih tenang karena tahu bahwa sebentar lagi tour selesai dan “penderitaannya” akan segera berakhir. 

Saya sangat bersyukur,karena Eddy dan Marie bukanlah tipe wisatawan detil, seperti yang saya khawatirkan. Mereka hanya butuh exercise to refresh them, they were on holiday. Mereka lain dari wisatawan-wisatawan Perancis pada umumnya yang terkenal cerewet dan banyak tanya. Ooo..apakah karena mereka memang tipe kalem, ataukah karena saya tidak guiding pake bahasa Perancis. Kira-kira kalau saya ngomong Perancis, mungkin dari tadi saya sudah “terkapar dan teler”, diberondong pertanyaan!!

Mahawu Trekking bisa menjadi pilihan tour bagi anda saat berkunjung ke Manado, apalagi jika anda suka berjalan kaki dan melihat pemandangan alam. Rute pendakian tidak terlalu berat. Harga tour berkisar antara Rp.750,000 per orang (minimal 2 orang) jika di handel oleh professional,harga termasuk mobil AC, makan siang , guide (bhs indo & inggris).

Akhirnya, kami meninggalkan puncak Mahawu dan menuju ke bibir danau Tondano untuk makan siang di salah satu restoran disana (seafood). Saya mengamati Mr.Eddy dan Mrs.Marie dan they were just OK, tidak ada raut kekecewaan di muka mereka, tidak ada tatapan kesal kepadaku karena informasiku yang mungkin menurutku cukup amburadul. Yah, sejauh pengamatanku, mereka cukup bahagia, terutama melihat Julie dan Margot yang begitu menikmati makan siangnya.

Setelah men-drop mereka ke sebuah resort di selatan kota Manado, saya malah dikasi tip Rp.300,000,-. Jiahhhhh malah dapat tip?Apa-apaan ini?…..I truly did not expect this tip , karena yang ada difikiranku selama tour hanya “trying my best to keep them satisfied by whatever mean”. Tamunya senang dan tidak complaint aja sudah lebih dari cukup. Tapi ya masa rejeki ditolak,setelah berbasa-basi sedikit saya pun menerima tipnya dengan hati berbunga-bunga dan saya bagi dua dengan supir, setidaknya sebagai pengganti keringat capek dan biaya berobat ke dokter takut sayatan rumputnya infeksi #jiahahah lebay mode ON…Kami pun kembali ke kota Manado.

Sebenarnya, jadi guide itu enak-enak susah. Enaknya ya kita bisa numpang mobil gratis,masuk ke objek wisata gratis dan makan gratis, tanpa harus merogoh gocek untuk bayar entrance fee segala macem. Tidak enaknya, kita bertanggung jawab BESAR untuk memberikan informasi yang BENAR dan TEPAT kepada wisatawan tetang objek-objek wisata yang dikunjungi. Semasa kuliah,disetiap mat-kul guiding, dosenku selalu bilang “guide never say NO or I DON’T KNOW” yang artinya seorang guide dituntut untuk berwawasan luas dan mengetahui “segalanya”. Untungnya, selama tour saya memang tidak pernah mengucapkan “I DON’T KNOW” , sejauh ini ilmu dari kampus masih diterapkan hahaha…

Artiket terkait :

Saturday, January 19, 2013

BERWISATA KE AIR TERJUN SAMBABO - ULUMAMBI



Tanggal 6 Nov 2012, aku dan ke dua adikku Perdi,Quartus sudah menyusun rencana untuk berkunjung ke air terjun yang paling indah dan paling spektakuler di daerahku,nama air terjunnya Sambabo atau bahasa kerennya Sambabo fall  #hallah , emangya cuma Niagara saja yang bisa pake embel-embel fall di dibelakangnya hehe.

Lokasinya di Ulumambi (nama desa/daerah) berjarak kira-kira 10-an kilo lah dari desaku Saludengen, atau sekitar 2 jam-an jika ditempuh berjalan kaki dengan kecepatan selangkah per detik (kecepatan normal penduduk lokal), tapi jika dengan kecepatan “selangkang lecet”  maka dibutuhkan sekitar 3 jam-an atau lebih.

Aku sudah pernah berkunjung kesana sekali, sewaktu masih SMP dulu. Waktu itu ada acara picnic  (ciee picnic!!)  dengan teman-teman katekisasi remaja. Ya namanya juga kampung, ga ada yang semacam water-bom, water-park, atau semacam Bedugul di Bali untuk berpiknik,jadi akhirnya tidak ada pilihan lain selain ke water-fall. Tapi yah gitu-gitu udah sangat luar biasa untuk kami yang tinggal di kampung.

Keesokan harinya tanggal 7, aku dan adikku mulai packing untuk menjadi “bo-lang” sehari. Setelah semua disiapkan termasuk tas ransel kecil berisi bekal untuk makan siang, dan parang di pinggang, kami pun berangkat. Adikku mengajak empat orang teman SMP-nya yang kebetulan masih keluarga dekat juga. 

Perjalanan pun dimulai, karena sesuatu dan lain hal kami terpaksa berangkat sekitar jam 11 pagi waktu itu. Kami melewati jalan setapak , perkebunan cokelat dan kopi, melewati perkampungan/pedesaan dan rumah-rumah penduduk (Masoso dan Rantelemo). Perjalanan ini sejatinya melelahkan, akan tetapi selingan canda, tawa selama perjalanan telah membuyarkan itu semua, dan biasanya pegal-pegal baru akan terasa jika sudah selesai mandi dan duduk manis di depan TV.

Dengan hanya berbekal kamera poket,,pemandangan-pemandangan yang yang kami lalui sepanjang perjalanan tidak luput dari “jepretan” ku. Andai aku punya kamera DSLR + lensa 18-55 mm saja ,hasilnya mungkin bisa “sedikit” lebih cantik hehe – dasar manusia tidak pernah puas -. Tapi tak apalah, kamera poket ini sudah lebih dari cukup.

** Sungai Rante Lemo

Waktu menunjukkan pukul 3 sore ketika kami mulai mendengar gemuruh air terjun yang menandakan airterjunnya sudah sangat dekat. Yah sebetulnya kecepatan yang kami gunakan adalah kecepatan “selangkang lecet” buktinya kami berangkat jam 11 dan baru tiba sekitar jam 3 sore di Sambabo, ini efek dari kebanyakan bercanda dan potret memotret.

Voila…here we are, the magnificent super stunning waterfall!
Air Terjun Sambabo
The waterfall from the distance
Air Terjun Sambabo  Jerijourneys
**from the distance
Sambabo Waterfall
**almost getting the the base
Air Terjun Sambabo
**the bamboo bridge crossing the river, almost broken
Air Terjun sambabo
**THOSE HANDSOME BOYS WERE POSING UNDER THE FALL**
 
Airterjun ini berketinggian sekitar 100-an meter, dengan debit air yang tidak begitu kencang seperti punya sipiso-piso di Kabanjahe-Sumut. Namun ke-tinggian-nya mampu membuat kepala anda “mendongak” to the max jika anda mencoba melihat puncaknya tepat dari bawah kakinya.

Secara etimologi,nama Sambabo terdiri dari dua kata dan arti yaitu SAMBA (ga ad hubungannya dengan Brazil lho!!) dan BO atau BOTTO.SAMBA dari bahasa lokal berarti “berkeliling , menjelajah , mengeksplorasi” - sedangkan BOTTO berarti “kampung,desa”.

Nama ini muncul berkaitan dengan mitos masyarakat setempat bahwa air terjun ini dijaga oleh seekor burung raksasa yang “bersarang” di balik airterjun, dan akan keluar pada waktu-waktu tertentu untuk mengelilingi/menjelajah seluruh desa di area itu. Again, this is just a local myth and as far as i know nobody has ever seen the giant bird,and probably never will.

Sumber lain juga mengatakan bahwa SAMBABO sebenarnya berarti air/sungai yang melewati kampung/desa. Jika kita menjelajah ke hulu sungai, kita akan mendapati pedesaan, namanya desa Sambabo yang penduduknya bertani,berkebun dan beternak seperti aktifitas penduduk desa pada umumnya.

Sebenarnya, airterjun ini mempunyai potensi besar untuk menjadi primadona wisata di Kab. Mamasa jika seandainya ada perhatian dari pemerintah. Tidak ada fasilitas penunjang objek, aksesnya susah, kurangnya promosi di media cetak/elektronik menjadikan tempat yang sangat indah ini, tidak dikenal orang.

Ketika tiba disana, aku hanya melihat sebuah gubuk (mugkin ditujukan sebagai tempat istirahat bagi pengunjung) -dengan atap seng, kondisinya yang tidak terawat ,lapuk, berlumut, penuh sampah disekitarnya. Yah, miris juga. Padahal jika dikelolah dan dipromosikan dengan baik, bukan tidak mungkin orang-orang dari luar juga setidaknya tau atau tertarik untuk datang berkunjung menikmati keindahannya.

Setelah puas “berbolang” dan berpiknik ria, kami pun beranjak meninggalkan Sambabo dan jarum jam tanganku menujuk angka 4.

Perjalanan yang indah dan menyenangkan. Hanya foto-foto hasil jepretan kamera poketku yang kubawa kembali ke rumah sebagai kenang-kenangan. Sungguh luar biasa. Aku hanya berdoa dan berharap, semoga suatu saat,entah kapan pun itu air terjun ini bisa berubah menjadi objek wisata nasional / internasional yang dikenal dan bisa menarik minat lebih banyak wis-dom dan wis-man untuk berkunjung.

Aku dan kedua adikku menginjakkan kaki diteras rumah sekitar jam 7 malam. Full day Sambabo tour has just finished!!

Artikel terkait