Tuesday, January 22, 2013

MENJADI PEMANDU KE GUNUNG MAHAWU -MANADO



MAHAWU adalah nama sebuah gunung vulkanik di kota bunga Tomohon, Sulawesi Utara. Gunung ini termasuk kedalam tipe “stratovolkano” atau gunung vulkanik yang terbentuk dari lava dan abu vulkanik yang mengeras. Tingginya 1,324m atau 4,434 kaki dari permukaan laut. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1jam 30 menit dari kota Manado melalui rute Samrat-Pineleng- dan seterunya mengikuti arah jalan ke Tomohon.

Rute Mahawu
Topografi Mahawu
RUTE KE MAHAWU
 Saya pertama kali menginjakkan kaki di gunung ini pada tahun 2008 lalu (udh lama banget), tapi tanggal dan bulannya sudah resmi terhapus dari ingatan, intinya udah pernah kesana lah. Jika ada pertanyaan:kenapa ceritanya baru dipost di blog sekarang? Ya karena semangat untuk nge-blog baru “menyala” 2 tahun silam haha.

Nah lucunya, jika orang-orang berkunjung ke sana sebagai wisatawan/pelancong yang membayar untuk itu, saya justru tidak sebagai wisatawan melainkan sebagai guide atau pengantar wisatawan- hehe just my luck

Yap,kurang lebih setahun saya merasakan bekerja di kota tinutuan Manado. Saya bekerja disalah satu PT yang bergerak dibidang usaha perjalanan wisata (baca: Tours & Travel) di jalan Samrat sebagai staf reservasi yang tugas kesehariannya berkoresponden ria dengan calon tamu melalui surat elektronik (baca:email) untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka seputar aktifitas wisata atau membantu mereka untuk merencanakan perjalanan wisata mereka khususnya wisata ke Manado. 

Awal dari perkunjungan saya ke gunung Mahawu adalah ketika pada suatu hari (lupa tepatnya hari dan tanggal berapa) saya  menerima email dari seorang calon tamu namanya Mrs Marie. Mrs.Marie dan suaminya Mr.Eddy adalah expatriat berkebangsaan Perancis dan berdomisili di Balikpapan, Kalimantan. Mereka berencana untuk berwisata ke Manado dan kebetulan memilih perusahaan kami untuk mengatur perjalanan mereka. Setelah berkoresponden dan tawar menawar akhirnya mereka mengambil tawaran kami untuk program tour dan akomodasi satu malam. Mereka memilih salah satu produk kami yaitu “Mahawu Volcano Trek + drop off service” ke salah satu resort di selatan Manado.

Singkat cerita, tour-nya telah dijadwalkan hari minggu, dan biasanya untuk urusan tour kami selalu menyewa freelance guide. Tapi entah kenapa semua guidenya pada sibuk waktu itu. Karena tidak ada yang bisa dijadikan guide, jadilah saya yang ditunjuk sebagai guide dadakan – memang benar-benar rejeki saya sepertinya-. Rejeki sih rejeki, tapi sempat kaget juga, pasalnya saya bener-bener nihil informasi mengenai gunung Mahawu, apa yang mau dijelasin? pikirku. Alhasil, sehari sebelum tour saya harus begadang mencari referensi/informasi di om gugel tentang apa-apa yang harus saya jelaskan ke tamu. 50% bahagia karena akan mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi, 50% tidak konfiden dengan informasi yang akan saya berikan ke tamu.

Tapi thanks to om gugel, akhirnya setelah browsing dan mendapatkan tambahan informasi, percaya diri saya naik dari -0% menjadi 85%, 15% sisanya lagi do’a, semoga tamu yang akan saya pandu ini tidak bertanya hal-hal yang saya tidak tahu,bisa mampus berkeping-keping– hah!! guide macam apa nih?-

Akhirnya, pagi itu saya dan supir menjemput Mr Eddy dan Mrs Marie di hotel,kebetulan hotelnya berseberangan dengan kantor kami. Setelah meet & greet dicampur sedikit basa basi, tour pun di mulai- Wow surprised!!Ternyata, they  were a small family with 2 kids. Nama anaknya Julie dan Margot (baca:Margo). The kids were so cute.
 
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perjalanan memakan waktu sekitar 1jam 30 menit. Setibanya di perkebunan sayuran Tomohon, kami harus memarkir L-300 dan memulai trekking melalui jalan setapak menuju puncak gunung, ya namanya juga Mahawu trek, ya harus jalan kaki dong. Sebenarnya pos 1, masih dapat diakses dengan kendaraan roda empat, tapi demi “men-dramatisir” trekking,tamu di drop di persimpangan dan diajak berjalan kaki saja.

Berjalan kaki sekitar 30 menit akhirnya tibalah kami di pos 1 gunung Mahawu, dan tinggal sedikit lagi untuk sampai ke puncak. Menurutku, Mahawu trek ini bukanlah jenis aktifitas ekstrim,mungkin lebih cocoknya disebut “soft adventure”. 

Mahawu
Menggendong si Margot


Ketika kami sampai di puncak, kami hanya perlu berjalan mengelilingi bibir gunung dengan pemandangan kawahnya, namun sialnya jalan setapak yang harus dilalui untuk mengelilingi kawah ditumbuhi rumput-rumput liar yang tingginya melewati kepala dan anda harus berjuang menemukan jalan dengan susah payah karena rumput yang sangat amat lebat. Belum lagi,diantara semak itu terselip helai-helai rumput “predator” yang sudah siap menyayat kulit anda jika tidak berhati-hati.
Gunung Mahawu
Beautiful Julie was waiting for her dad,while Margot was crying
Tugas saya untuk menjelaskan objek sedikit terbantu oleh rewelnya si Julie dan Margot, mereka membuyarkan konsentrasi orang tua mereka untuk bertanya, dengan merengek-rengek karena ingin cepat pulang,sepertinya mereka kecapekan. Hahayy…alangkah senang hatiku. Seingatku, cuma luas kawah dan tahun terakhir erupsi yang saya jelaskan :

“Sir, the height of this mountain is 1,324m from the sea level, with 180m wide and 140m deep. The small eruption recorded happened in 1789”….saya menjelaskan sambil menggerak-gerakkan tangan bak guide pro, padahal informasinya didapat dari om gugel wkwkwkw –gila-..
Mahawu Mount
what a cute kids!!!
Selebihnya,saya menyibuk-kan diri mencari jalan untuk tembus ke sisi sebelah gunung dan menggendong si bungsu Margot yang lebih rewel dari kakaknya, sambil berdoa dalam hati “please,no more questions” hahaha…..

Finally, setelah tembus ke sisi gunung dengan susah payah dan kembali ke starting point, dan hasilnya lengan kanan saya terasa kram karena menggendong si Margot plus perih di kulit tangan dan kaki karena disayat rumput sejenis alang-alang. But overall saya senang bisa dekat dengan si Margot, she’s so cute. Kami beristirahat sejenak dan si Margot sudah mulai lebih tenang karena tahu bahwa sebentar lagi tour selesai dan “penderitaannya” akan segera berakhir. 

Saya sangat bersyukur,karena Eddy dan Marie bukanlah tipe wisatawan detil, seperti yang saya khawatirkan. Mereka hanya butuh exercise to refresh them, they were on holiday. Mereka lain dari wisatawan-wisatawan Perancis pada umumnya yang terkenal cerewet dan banyak tanya. Ooo..apakah karena mereka memang tipe kalem, ataukah karena saya tidak guiding pake bahasa Perancis. Kira-kira kalau saya ngomong Perancis, mungkin dari tadi saya sudah “terkapar dan teler”, diberondong pertanyaan!!

Mahawu Trekking bisa menjadi pilihan tour bagi anda saat berkunjung ke Manado, apalagi jika anda suka berjalan kaki dan melihat pemandangan alam. Rute pendakian tidak terlalu berat. Harga tour berkisar antara Rp.750,000 per orang (minimal 2 orang) jika di handel oleh professional,harga termasuk mobil AC, makan siang , guide (bhs indo & inggris).

Akhirnya, kami meninggalkan puncak Mahawu dan menuju ke bibir danau Tondano untuk makan siang di salah satu restoran disana (seafood). Saya mengamati Mr.Eddy dan Mrs.Marie dan they were just OK, tidak ada raut kekecewaan di muka mereka, tidak ada tatapan kesal kepadaku karena informasiku yang mungkin menurutku cukup amburadul. Yah, sejauh pengamatanku, mereka cukup bahagia, terutama melihat Julie dan Margot yang begitu menikmati makan siangnya.

Setelah men-drop mereka ke sebuah resort di selatan kota Manado, saya malah dikasi tip Rp.300,000,-. Jiahhhhh malah dapat tip?Apa-apaan ini?…..I truly did not expect this tip , karena yang ada difikiranku selama tour hanya “trying my best to keep them satisfied by whatever mean”. Tamunya senang dan tidak complaint aja sudah lebih dari cukup. Tapi ya masa rejeki ditolak,setelah berbasa-basi sedikit saya pun menerima tipnya dengan hati berbunga-bunga dan saya bagi dua dengan supir, setidaknya sebagai pengganti keringat capek dan biaya berobat ke dokter takut sayatan rumputnya infeksi #jiahahah lebay mode ON…Kami pun kembali ke kota Manado.

Sebenarnya, jadi guide itu enak-enak susah. Enaknya ya kita bisa numpang mobil gratis,masuk ke objek wisata gratis dan makan gratis, tanpa harus merogoh gocek untuk bayar entrance fee segala macem. Tidak enaknya, kita bertanggung jawab BESAR untuk memberikan informasi yang BENAR dan TEPAT kepada wisatawan tetang objek-objek wisata yang dikunjungi. Semasa kuliah,disetiap mat-kul guiding, dosenku selalu bilang “guide never say NO or I DON’T KNOW” yang artinya seorang guide dituntut untuk berwawasan luas dan mengetahui “segalanya”. Untungnya, selama tour saya memang tidak pernah mengucapkan “I DON’T KNOW” , sejauh ini ilmu dari kampus masih diterapkan hahaha…

Artiket terkait :

2 comments:

  1. aww melewati ilalang ilang...bisa gatel gatel sepulang dari sana hahaha

    ReplyDelete
  2. hehe..yap, benar2 gatal gatal dan kulit "bini-bini" nagesok rea anna arrak :)

    ReplyDelete

Bagaimana pendapat anda tentang postingan ini?