Thursday, February 26, 2015

SINGAPORE TRIP (DAY 1) : CHANGI - BEDOK - HARBOUR FRONT- LITTLE INDIA

Jerijourneys.com - Ini adalah lanjutan cerita tentang perjalanan "backpacking" ke negara tetangga Singapura February tahun silam , selamat!! postingan mandek alias gak kelar-kelar...berharap tahun ini bisa kelar ! Lanjutt...

Setelah selesai dengan segala kerepotan di bandara cantik Changi, kami akhirnya bisa mendudukkan pantat di salah satu sudut stasiun MRT "bawah tanah". Kenapa saya sebut bawah tanah, ya karena memang dibawah tanah #hallah kira-kira 3x turun escalator dari Terminal 2. Yang membuat saya geleng-geleng #katrok adalah betapa hebatnya Singapura men-desain stasiun dan jalur MRT sedemikian rupa (men-cover seluruh Singapura) – maksut saya: ini stasiun ama  jalur MRT (walau gak semuanya) digali berapa meter dari permukaan tanah, ini pasti membutuhkan waktu yang lumayan lama pengerjaan proyeknya. (sok sok ngerti teknik).

Berpose di depan Bedok North Avenue
Tujuan selanjutnya adalah stasiun bus, BEDOK. Kenapa BEDOK? Begini penjelasannya: Saat trip Singapura rampung 70%, pertama kali yang muncul dalam benak saya adalah ,sampe di Changi trus kan mau ke hotel nih ceritenye, mau naik apa? Trus kan di map kan udah keliatan tuh Little India, emang segampang itu kesana pake MRT ? kan enggak, pasti ada jalurnya…*mutar otak*

RUTE MRT  
Yang gak suka baca map ato yang geograpinya gak lulus, pasti mau muntah liat nih gambar. This is MRT (Mass Rapid Transit) Map – atau peta rute MRT. Ini juga baru saya tau setelah mendengar cerita-cerita dari temen kalo di Singapura itu gak ada yang namanya "metro mini" yang seliweran dalam kota dan bikin macet dan risau (walopun sebenarnya ada bus cuman bedanya bus disini terjadwal dan teratur dan tidak berhenti di sembarang tempat,tidak ugal-ugalan apalagi naik trotoar) , gak ada becak, gak ada ojek yang bisa disetop dimanapun dan pergi kemanapun. Moda transportasi umum itu MRT. Langsung deh saya nyari info. Ya itu, info yang saya dapat : jika mau naik MRT harus pake kartu EZ-Link. Nah, jalur MRT dari Airport Changi adalah yang berwarna "ijo" endingnya di Joo-Koon.

Oke, Bedok atau lebih spesifik Bedok Bus Interchange adalah salah satu stasiun bus ter-ramai ke-2 di Singapura dari total kurang lebih 19 interchange/terminal. Lokasi stasiun Bedok tidak jauh dari bandara, gak sampe 10 menit jika naik MRT. Asal muasal pengen naik bus: Karena kami ingin memaksimalkan waktu, yang hanya 2 malam 3 hari, maka setelah sharing dengan tim seperjalanan (walopun raut muka mereka sedikit berubah setelah mendengar kata “naik bus” hehe) maka diputuskan untuk “sightseeing” dengan bus dari Bedok ke Harbour Front /Vivo City dengan hanya membayar seingat saya sekitar  S$ 2 per orang.  Yah murahlah, ketimbang harus nyewa mini-bus + guide untuk touring dengan waktu terbatassss, pasti ongkos mahal pulakk, bisa habis duit saya yang hanya 300 dolar Singapura. Bus yang digunakan bertingkat 2 kayak bus di London (sok pernah ke London) ,jadi kami memilih duduk di lantai 2 dan paling depan, agar bisa dengan leluasa menikmati view kota Singapura.

Wah ada cewek kece duduk di pojokan ( bukan yg baju merah ya)!!

Ngapain, bang??

sambil baca peta!!

Wendy , Ica
So kami mengambil bus nomer#30 dengan rute sbb : BEDOK – NEW UPPER CHANGI ROAD – CHANGI ROAD – GEYLANG ROAD – TG KATONG ROAD – DUNMAN ROAD – OLD AIRPORT ROAD – MOUNTBATTEN ROAD – FORT ROAD – MCE (lewatin underpass, trus lihat Singapore Flyer sekilas) - KEPPEL ROAD – TELOK BLANGAH – VIVO CITY


Rute Bus BEDOK - HARBOUR FRONT (Vivo City)
Jam menunjukkan pukul 3 ketika kami sampai di Vivo City, salah satu pusat perbelanjaan (Mall) di Harbour Front, deket dengan pulau Sentosa (Sentosa Island). Ada yang aneh, kami merasa agak lemes kurang tenaga . Usut punya usut, ternyata tangki belum diisi (baca:perut) sejak tiba tadi, maklum rada nerves dan bingung mikirin banyak hal. Setelah berkeliling Vivo City – kayak mall pada umumnyalah alias nothing was too special, dari segi layout dan barang-barang yang dijual hampir samalah kayak mall-mall di Indonesia (emang maunya kayak apa?)  bedanya barang-barangnya ber-price tag dolar Singapur dan jika di Rupiah-kan hampir sama juga harganya. Kami kemudian menuju Food Court di lantai paling atas untuk melepas lapar dan dahaga. Setelah berkeliling memilih dan mengamati jenis-jenis masakan yang dijual – yang ternyata disitu ada juga makanan ber-bau Indo, misalnya : Nasi Goreng Jakarta, Pecel dll. 

Setelah mondar-mandir gak jelas, akhirnya kami memilih kedai yang menjual semacam nasi campur persis kayak Warung Prasmanan Bu Tinuk (asli Jowo Timur) tapi yang jaga si mata sipit dengan logat Singlish. Gak tau tuh jenis-jenis makanannya, yang saya tahu hanya “nasi lemak” setelah dimakan ternyata “nasi uduk” hadehh. So kami membayar sekitar $3 dolar Singapur untuk makanan + S$ 3 untuk minuman. Agak mahal untuk kantong kami (budget terbatas), tapi mau apa rata-rata harga makanan di Singapur ya segitu.
"acara maksi di foodcourt Vivo City"

"Entah, lagi ngobrolin apa nih"
Setelah selesai makan, kami bergegas untuk segera meluncur kepenginapan (yang sudah kami pesan melalui Booking.com gak tanggung tanggung 3 bulan sebelumnya) - Kawan Hostel di Little India. Dari Harbour Front (Vivo City) ke Little India,  sangat mudah karena hanya melalui satu rute MRT (gak perlu keliling 10x di MRT  interchange) rute ungu : NORTH EAST LINE – NE  (warnaungu – lihat peta MRT) , Little India sendiri terletak di NE7 (lihat peta).

Suasana MRT


Semakin deket dengan Little India semakin banyak penumpang MRT berwajah India. Tapi gak salah, soalnya saya sempat mencari informasi tentang Little India di Google dan memang ya begitulah informasinya, Little India adalah kompleksnya orang India di Singapura. 

Sekitar pukul 4, kami tiba di NE7 LITLLE INDIA , dan segera keluar dari MRT kemudian mengikuti petunjuk arah menuju Exit. Setelah berjalan kaki dengan jarak yang lumayan maka sekali naik tangga lagi kami menginjakkan kaki di Little India, maka fix hampir 100% orang-orang yang berseliweran adalah pure orang India. Gosh! 

Tadahh!! Kami persis muncul di deket sebuah pasar kalo gak salah di  Buffalo Road St (Jalan Kebo) dan..oh my…look at this! Baru deh nyadar, this an absolute Indian settlement. Di setiap sudut area ini semua India, dari pakaian, kulit, bau dan apalah…..No Racist Please!!

Etnis India, menduduki posisi ke 3 atau menyumbang kurang lebih sekitar 9% dari total populasi Singapura menurut data 2013, dari beberapa etnis di Singapura. Etnis dengan populasi terbanyak adalah China kemudian Melayu. Pada masa pre-kolonial , jika kita melihat sejarah pada abad ke-8  bisa disimpulkan bahwa India memegang peran penting dalam peradaban/sejarah Asia Tenggara, ketika pada masa itu orang-orang India datang untuk berdagang, kemudian menyebarkan filosfi agama mereka yaitu Hindu-Buddha. Pada masa kejayaan Sriwijaya, penyebaran agama Hindu-Buddha begitu pesat di Asia Tenggara.

"Sharukh Khan ketangkep Paparazzi lagi ngobrol ama Amitha Bachan"
@Little India
Pada masa penjajahan Inggris di Asia, khusunya di India dan Singapura, ada banyak orang India yang dibawa untuk dipekerjakan sebagai buruh kasar maupun sebagai tentara. Kemudian pada pertengahan abada ke-20 orang-orang India mulai membangun pemukiman  di Singapura. Namun jangan salah ,bagi sebagian orang India menjadi permanen residen di Singapura tidak segampang yang kita pikirkan . Para pekerja tanpa skill (unskilled workers) hanya diberikan waktu maksimum 2 tahun untuk berada di Singapura dengan “Work Permit”, dan tidak akan mendapatkan hak untuk mengajukan “Permanen Residen”  sedangkan bagi sebagian etnis India yang –yah istilahnya- para professional, wirausahawan yang mempunyai pendapatan tinggi secara otomatis dijamin untuk mendapatkan perpanjangan “Employment Pass” dan bahkan diberikan hak untuk mengajukan permohonan untuk menjadi “Singapore Permanent Resident”. Sangat panjang perjalanan ataupun perjuangan etnis India di Singapura jika kita ingin membahas lebih detail, tapi ini hanya sekilas saja. Menurut saya sih kebijakan ini, walopun agak sedikit berbau diskriminasi tapi memang harus demikian mengingat Singapura bukanlah negara dengan wilayah yang luas , jadi populasi harus diperhitungkan jangan sampe over-population istilahnya (sok ngerti ilmu sosiologi)..

Namun pada dasarnya, keberadaan etnis India di Singapura juga tidak bisa dipandang sebelah mata karena mereka juga telah sangat berpartisipasi dan berkontribusi banyak dalam sejarah Singapura misalnya di bidang Politik, sebut saja : C.V Devan Nair (Presiden ke-3 Singapura), S.R Nathan (Presiden ke-6 Singapura) dan  Balaji Sadasivan (ex-Menteri Luar Negeri Singapura) yang kesemuanya adalah ber-darah India.

Selesai dengan ke-bengong-an kami, melihat begitu banyaknya India-he disini, kami kembali dibingungkan untuk mencari Dunlop St (Jalan Dunlop) ,lokasi hostel kami. Buset, kemana nih sekarang? gumam saya dalam hati. Yang paling nyesek adalah ketika saya tahu bahwa jaringan telkomsel saya bener-bener tidak ada signal alias completely dead! Otomatis gak bisa ngapa-ngapain ataupun akses google map – walaupun saya tau biaya internetan pasti akan lebih mahal karena kena roaming – tim seperjalanan yang lain gak ada masalah tuh dengan jaringannya,malahan dilayarnya pada muncul SING-TEL gitu (tapi gak ada pulsa juga hahaha), koq saya sendiri yang matek ya. Misteri itu belum terpecahkan sampai sekarang. #tsahhh…sudahlahhhh.

Dunlop Street

Penampakan Dunlop Street di waktu pagi


Kawan Hostel yang cantik dan menawan :D
Berbekal map yang saya colong di bandara tadi kami mencoba mereka posisi Dunlop St, ternyata masih sekitar 10 menit perjalanan jauhnya dari lokasi kami berada. Untung gak bawa barang sekontener, bisa mati gaya. Sejauh mata memandang , memang gak satupun taxi maupun angkot terlihat.

Kawan Hostel adalah salah satu diantara pilihan (seperti dipaparkan pada cerita di Singapore Trip part 1) yang lebih kompromi dengan bujet , cocok untuk kami ber-4 dengan private bathroom (hot & cold pula). Harga per orang per malam adalah USS$30 atau sekitar Rp 285,000, sarapan self service (buat sendiri) dengan hanya ada roti dan selai plus pemanggangnya. Teh dan kopi sudah disiapkan, tinggal seduh dengan airpanas dari termos. Yah , okelahhh….
makan pagi.......


Artinya : abis makan, dicuci tuh piring, trus balikin ke rak

tersinggung......koq dalam bahasa Indonesia pemberitahuannya..artinya???
Setelah ber-istirahat beberapa saat,  kami segera ngantri di pintu kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian memakai pakaian ter-cantik masing-masing dan segera menuju kondangan MUSTAFA CENTER yang ternyata hanya sekitar 10 sampai 15 menit dengan berjalan kaki, masih sekitaran Little India.

MUSTAFA CENTER adalah salah satu pusat perbelanjaan 24 jam di Singapura lokasinya di Syed Alwi Road. Menjual berbagai macam pakaian, elektronik, parfume, cokelat dsb. Jadi yang suka shopping, coba aja ke sini, kalo saya sih enggak ya karena memang gak punya duit . Saya waktu itu cuman beli International Adaptor seharga $3 (ga tau mau diapain - ohh gara-gara di hostel gak bisa ngecharge karena ga ada adaptor sekaligus untuk persiapan travelling berikutnya kali- Amin) , dompet (kayaknya sih kulit asli) $12 (udh setahun masih awet), ya belanja disini lumayanlah barang-barangnya juga termasuk bagus-bagus koq.

Selesai berbelanja, waktunya pulang tapi mau nyari makan dulu. Kami sibuk mencari tempat yang cocok untuk makan, akhirnya terdampar di salah satu restoran DIM SUM yang direkomendasikan oleh teman kami di Singapura meskipun gak jadi ketemuan. Nama restorannya : SWEE CHOON atao apalah ...dimana kami kebingungan memahami menu yang semuanya dalam huruf kanji mandarin. Untuk sementara bahasa Inggris kami “mati” disini. Ditambah si pelayan gak bisa bahasa Inggris hanya memakai bahasa tubuh.  Untung menunya pake gambar, kalo gak, ga tau deh ending-nya gimana nih acara makan malam. Yang jelas, setelah semua pesanan disajikan kami hanya bisa berpandangan sambil menahan tawa. Semua nampaknya agak-agak shock dengan pesanan masing-masing.

Sekitar pukul 10an kami kembali ke hostel dengan keluhan seragam "betis pegel" gara-gara jalan kaki. Bagaimana tidak, 99% aktivitas disini melibatkan jalan kaki, dimulai di Bandara, stasiun bus Bedok, yang paling gila di MRT interchange , Little India, Mustafa Center, wihh..kapok..

Walo begitu, lumayan happy-lah bisa jalan2 di Singapura. That's the story for today,hari pertama selesai , kita tutup. Tok,tok,tok!

Friday, February 20, 2015

TERPESONA OLEH BOROBUDUR........


Jerijourneys.com - Tanggal 09 Feb 2015, resmi untuk pertama kali saya melihat dengan mata kepala sendiri  – yang dari SD ampe SMP hanya saya  baca di buku – yang  namanya Candi Borobudur. Candi Borobudur yang berloksasi di Magelang atau sekitar 40 kilo dari kota Jogja , mempunyai luas kurang lebih sekitar 1 hektar (123 x 123 m2) dengan tinggi kira-kira 35-40 cm , dan diyakini merupakan peninggalan dinasti Sailendra antara abad ke -8 hingga abad ke 12.


Candi Borobudur

"sweep panorama"
Sangat menarik membaca segala sesuatu tentang Candi Borobudur, dan terus terang membuat saya kagum dan terpesona, despite every “not nice” news I’ve heard from TV about the corruption in my country, Indonesia...terselip kekaguman dan kebanggan di hati sanubari menjadi bagian dari negara ini karena sejarahnya dan karena tempat ini (baca:candi Borobudur).

Setelah membayar parkir Rp 10,000 , kami memasuki parkiran di pelataran Candi yang sangat asri dan hijau. Seperti kebanyakan objek wisata pada umumnya, jangan heran jika saat turun dari mobil anda langsung diserbu oleh pedagang asongan yang menawarkan berbagai macam pernak pernik dan souvenir khas Candi Borobudur berupa gantungan kunci, ohh ataukah kaos yang bertuliskan “I love Jogja” J . Kami hanya berjalan kalem menerobos kerumunan pedagang sambil sesekali berucap sambil menggelengkan kepala  “enggak bu, enggak pak..makasih” . Tak lupa disertai senyuman termanis. Hah!

Sepertinya timing berkunjung  saat ini kurang tepat, matahari sangat terik menyengat dan pas lagi lucu-lucunya. Waktu menunjukkan pukul 10.30 , terhitung masih pagi sih memang tapi entah kenapa tengkuk dan lengan rasanya sedang  menyala dan sebentar lagi melepuh.  Ahh, benar-benar pintar si pedagang, melihat kami sedang celingak-celinguk kepanasan segera dia menghampiri menawarkan payung untuk disewa. Ya sudah, kami menyerah dan menyewa payung Rp 10,000 per buah.

"The magnificent view from the top"


Biaya Entrance Fee (EF) untuk masuk ke Candi adalah Rp 30,000 per kepala (dewasa) untuk wisatawan Domestik, dan untuk wisatawan mancanegara Rp 190,000 per kepala (dewasa). Memang sangat kontras bedanya, maka tak heran loket tiket Domestik dan Mancanegara terpisah (mungkin) hehe. Oh, satu catatan : apakah saya yang lagi sensi atau memang pegawai loket yg agak judes…yang jelas saya kurang nyaman dengan pelayanan dari pegawai di loket ini, ketika kami datang mereka sibuk dengan gadget dan tidak menyapa sama sekali, kami yang menyapa duluan – sedih ya- semoga hanya kami yang merasakan hal seperti ini. Ya sudahlah, tidak usah diperbesar , anggap saja saya yang lagi sensi.

Setelah melewati loket, untuk sampai ke bangunan Candi masih harus berjalan sekitar kurang lebih 10 menit (dengan jalan santai) melewati taman yang rimbun dengan pohon-pohon dan bunga. Namun meski begitu tetap saja panass. Beberapa meter dari Candi , pengunjung harus menggunakan semacam “sarong” yang diikatkan di pinggang, seperti jika mengunjungi Pura di Bali. Saya tidak sempat menanyakan untuk apa? Tapi asumsi saya , tujuannya kurang lebih sama yaitu sebagai penghormatan terhadap Candi, menggingat Candi Borobudur adalah tempat ibadah dan suci bagi kaum Buddha. Sarongnya gratis , tidak dipungut biaya.

"Berpose dgn Cece di depan salah satu stupa di puncak Candi"
Setelah puas berpoto-poto di area taman, saatnya memasuki Candi. Jadi semua pengunjung masuk dari sebelah/sisi  Timur, menaiki anak tangga dengan kemiringan kurang lebih 70 derajat. Yang membuat saya kagum pertama-tama adalah “penampakan” dari Candi ini sendiri, yang kedua adalah “ relief-relief” yang terpahat didinding Candi yang begitu banyak ,di setiap teras. 

“…Monumen ini (Candi Borobudur) terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[4] Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.[3] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma)…”

Saya sibuk mengagumi dan mencoba memahami - dan lebih kurang ajar lagi -  menerjemahkan  (sok-sok gitu) relief-relief yang terukir di dinding Candi sambil sesekali berdecak kagum. Setelah mengamati relief-reliefnya maka saya menarik kesimpulan terdapat kesamaan satu sama lain atau pengulangan relief-relief di berbagai tempat, namun intinya satu: beberapa orang digambarkan meyembah 1 figur, yaitu Buddha. Binggo! Smart kan gue? *kemudian dijitak guide lokal*

"Seluruh dinding dihiasi dengan relief -relief"
"Sleeping Buddha Relief"
"batu berukir relief"
Setelah bergulat dan bergumul dengan hawa panas, akhirnya kami sampai ke puncak – where we saw stupa(s) and arca(s), from here the view is stunning – Tapi bener deh, disarankan jangan kesini siang-siang atau pas lagi terik. Batu-batu candi berkontribusi “memperpanas” suasana karena memantulkan panas. Lebih pas jika datang lebih pagi, jam 9 gitu. Benar-benar gerah!
"In front of the entrance gate with the family"

"Berpose ber-3 ditengah panas yang luar biasa"
SEKILAS SEJARAH  TENTANG BOROBUDUR

Setelah puas menapaki setiap sudut dan teras Borobudur, terbesit beberapa pertanyaan yang membuat saya penasaran yaitu tentang “asal-usul” candi megah ini. Berhubung kami tidak “menyewa” pemandu maka tidak ada yang bisa memberikan informasi secuil pun. Terpaksa deh surfing di internet. Berikut merupakan  hasil dari “self-research” saya tentang “candi Buddha terbesar di Dunia” ini.

Candi Borobudur , menurut para ahli sejarah dan arkeolog dibangun pada sekitar tahun 770 Masehi. Jika lebih spesifik, tahun 770 Masehi merupakan bahagian dari abad ke-8 ,Millenium I. Abad ke 8, secara global adalah masa dimana – jika anda cari di google--- Olimpiade pertama kali diselenggarakan di Yunani, berdirinya kota Roma dan juga inti daripada pembahasan kita : PERKEMBANGAN PENGARUH (BUDDHA) HINDU DI SUMATERA, JAWA, BALI dan KALIMANTAN.

Sekarang kita mengerucut ke Asia, tepatnya ke Asia Tenggara.  Apa yang terjadi di Asia Tenggara pada abad ke-8?  Abad ke 8 adalah masa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Kejayaan Sriwijaya berkembang sejak abad ke 7, hingga abad ke 12. Dikutip dari Wikipedia:

“…Srivijaya was an important center for the expansion of Buddhism from the 8th to the 12th century..”
( Sriwijaya, merupakan pusat penyebaran agama Buddha pada abad ke-8 sampai ke -12)

Lanjut…..                                                                                                                                                              
“…Srivijaya had a religious, cultural and trade links with the Buddhist PALA EMPIRE of Bengal..”
(Sriwijaya mempunyai hubungan religius, budaya dan perdagangan dengan Kerajaan Pala (penganut Buddha), di Bengal)

Kerajaan Pala (Pala Empire) adalah sebuah kerajaan Buddha yang berada di India. Kerajaan Pala mencakup : India, Bangladesh dan Nepal (pada masa itu). Jadi sangat jelas, bahwa karena hubungan tersebut maka dapat dipastikan hampir seluruh penduduk Srivijaya pada masa itu menganut agama Buddha. Ini didukung dengan banyaknya ditemukan arca-arca Buddha di Palembang yang merupakan pusat kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

"Peta kerajaan Sriwijaya pada abad ke - 8 hingga ke-12"
Kerajaan Sriwijaya terus ber-ekspansi mulai abad ke-7 hingga abad ke-12 mulai dari Palembang, hingga ke seluruh Sumatra, semenanjung Malaya (Malaysia), Jawa dan sampai ke Kamboja.  Kamboja? Ya, Kamboja! Saya belum pernah berkunjung ke Angkor Wat (tapi saya berdoa semoga suatu saat bisa) – dan hanya melihat fotonya saja- akan tetapi dari struktur bangunan candi sangat memiliki kesamaan dengan struktur candi Buddha pada umumnya (khusunya Candi Borobudur dan Candi Prambanan). Bandingkan juga dengan candi-candi yang terdapat di Thailand, Myanmar dll.

Dikatakan bahwa, Jayavarman II yang merupakan raja dari kerajaan Khmer (Kamboja) pada tahun 802-850 dan sekaligus pencetus pembangunan Angkor Wat, pernah menetap di Jawa pada masa pemerintahan dinasti Sailendra, kemudian kembali ke Kamboja setelah Kamboja merdeka dari dominasi kerajaan Sriwijaya (1).  Meski demikian, Angkor Wat dibangun sekitar abad ke 12 atau 300 tahun setelah Candi Borobudur maupun Candi Prambanan.

Untuk informasi lebih spesifik –jika anda tertarik- coba cek di google dengan keyword : JAYAVARMAN II atau ANGKOR WAT

Candi Borobudur ,mulai dibangun pada abad ke-8 yaitu ketika ekpansi kerajaan Sriwijaya telah sampai ke Jawa. Dibawah pemerintahan dinasti Sailendra, candi ini dibangun, diperkirakan memakan waktu sekitar 75-100 tahun dan baru dirampungkan pada masa pemerintahan raja Semaratungga, pada sekitar tahun 825 masehi. Wangsa Sailendra merupakan penganut Buddha Mahayana yang sangat taat. Namun asal muasal Sailendra pun masih  menjadi kontroversi.

Ada versi yang mengatakan bahwa keluarga Sailendra berasal dari Kalinga, INDIA TIMUR. Opini ini didukung oleh salah satu sejarawan India yaitu Nilakanta Sastri dalam salah satu bukunya yang menyatakan bahwa bahwa Sailendra berasal dari India dan kemudian menetap di Palembang sebelum akhirnya pindah ke Jawa pada masa pemerintahan raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayasana (2)

Ada pula versi yang menyatakan bahwa Sailendra sebenarnya berasal dari KAMBOJA. Pada tahun 1934, seorang peneliti berkebangsaan Perancis, George Coedes yang mengabdikan dirinya meneliti tentang sejarah Asia Tenggara mengusulkan adanya keterkaitan antara Sailendra dengan kerajaan Funan di Kamboja. Ini dikarenankan, nama “Sailendra” dalam bahasa saksekerta berarti “ Lord Of Mountain/Mountain Lord” juga dipakai dalam penyebutan raja di kerajaan Funan pada masa itu. Akan tetapi mengenai hal ini, tidak ditemukan bukti yang medukung baik berupa peninggalan tulisan maupun benda (3)

Versi kemudian yang menguatkan opini bahwa Sailendra berasal dari SUMATRA , ditemukan pada prasasti SOJOMERTO (725 C.E) Kab. Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno yang menyebut nama “Dapunta Selendra” yang diyakini  merupakan leluhur dinasti Sailendra. Julukan “Dapunta” dipakai pada raja-raja Sriwijaya kala itu, contoh: Dapunta Hyang Sri Jayasana. (4)

(5) (Sebenarnya) Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya. Waktu pembangunannya diperkirakan , berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun pada tahun 800 masehi, dimana kurun waktu ini adalah masa puncak kejayaan dinasti Sailendra di Jawa Tengah.

PENEMUAN DAN PEMUGARAN

Candi Borobudur ,terkubur selama ber-abad abad dibawah gundukan abu vulkanik dan hutan belantara. Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365 oleh Mpu Prapanca (samaran) dalam naskah “Nagarakretagama” yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebut “Wihara di Budur”. Tidak diketahui alasan Candi Borobudhur ditelantarkan.

Pada tahun 1814, Gubernur Jendral Inggris Thomas Stamford Raffles , yang memiliki minat khusus tentang sejarah Jawa ,mendapatkan informasi dari penduduk lokal di Semarang mengenai adanya monumen besar jauh didalam hutan didekat desa Bumisegoro. Dia kemudian mengutus 200 anak buahnya dipimpin insinyur Cornelius untuk mencari monumen yang dimaksud.  Mereka menebangi pepohonan dan semak belukar digundukan bukit Borobudur dan membersihkan tanah yang mengubur candi itu.

Hartmann, pejabat pemerintah Hindia Belanda di keresidenan Kedu, meneruskan pekerjaan Cornelius pada tahun 1835 hingga seluruh bagian candi dapat terlihat. Namun ia tidak menulis laporannya dan tidak dipublikasi. Pemerintah Belanda kemudian menugaskan F.C Wilsen dan J.F.G Brumund , untuk melakukan penelitian lebih rinci dan detail  mengenai candi ini dan dirampungkan pada tahun 1859.

Pada tahun 1900-1902, Pemerintah Belanda membentuk komisi untuk merestorasi candi Borobudur untuk mencegah candi Borobudur dari kerusakan. Pemugaran baru dieksekusi pada kurun tahun 1907-1911 yang dipimpin oleh Theodore Van Erp. Proses pemugaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda tidak maksimal karena keterbatasan biaya. Pada akhir tahun 1960-an , Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan kepada masyarakat Internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi candi Borobudur. Pada kurun waktu 1973-1984, Indonesia dibantu UNESCO melaksanan proyek besar “PEMUGARAN CANDI BOROBUDUR” . AKhirnya pada tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai “warisan Dunia” oleh UNESCO.

"Didepan prasasti pemugaran Candi Borobudur oleh UNESCO , diresmikan oleh Presiden Soeharto"

KESIMPULAN
  • Dari paparan dari berbagai sumber seperti tertulis diatas, saya menyimpulkan bahwa Dinasti Sailendra  berperan penting dalam kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 7 hingga abad ke 12.
  • Tidak jelas, nama raja yang membangun Candi Borobudur mula-mula,apa kegunaannya, hanya disebutkan dibangun oleh Dinasti Sailendra dan dirampungkan pada pemerintahan Semaratungga.
  • Tidak jelas kenapa Candi ditelantarkan selama ber-abad abad
  • Saya (pribadi) ber-terima kasih kepada Pemerintah Hindia Belanda  (walaupun status mereka sebagai “penjajah” atau “komfeni” kelas “kakap”) yang telah menemukan Candi Borobudur ini. Kalau bukan mereka, apakah kira-kira kita bisa menemukan Candi Borobudur? Mugkin YA, mungkin juga TIDAK

Untuk informasi lebih detail tentang CANDI BOROBUDUR dan informasi-informasi terkait , dapat anda temukan di google dengan keyword : SRIVIJAYA KINGDOM, CANDI BOROBUDUR, SAILENDRA dsb.

Selamat membaca dan menelusuri sejarah Nusantara kita J.

CATATAN REFERENSI :