Friday, February 20, 2015

TERPESONA OLEH BOROBUDUR........



Jerijourneys.com - Tanggal 09 Feb 2015, resmi untuk pertama kali saya melihat dengan mata kepala sendiri  – yang dari SD ampe SMP hanya saya  baca di buku – yang  namanya Candi Borobudur. Candi Borobudur yang berloksasi di Magelang atau sekitar 40 kilo dari kota Jogja , mempunyai luas kurang lebih sekitar 1 hektar (123 x 123 m2) dengan tinggi kira-kira 35-40 cm , dan diyakini merupakan peninggalan dinasti Sailendra antara abad ke -8 hingga abad ke 12.


Candi Borobudur

"sweep panorama"
Sangat menarik membaca segala sesuatu tentang Candi Borobudur, dan terus terang membuat saya kagum dan terpesona, despite every “not nice” news I’ve heard from TV about the corruption in my country, Indonesia...terselip kekaguman dan kebanggan di hati sanubari menjadi bagian dari negara ini karena sejarahnya dan karena tempat ini (baca:candi Borobudur).

Setelah membayar parkir Rp 10,000 , kami memasuki parkiran di pelataran Candi yang sangat asri dan hijau. Seperti kebanyakan objek wisata pada umumnya, jangan heran jika saat turun dari mobil anda langsung diserbu oleh pedagang asongan yang menawarkan berbagai macam pernak pernik dan souvenir khas Candi Borobudur berupa gantungan kunci, ohh ataukah kaos yang bertuliskan “I love Jogja” J . Kami hanya berjalan kalem menerobos kerumunan pedagang sambil sesekali berucap sambil menggelengkan kepala  “enggak bu, enggak pak..makasih” . Tak lupa disertai senyuman termanis. Hah!

Sepertinya timing berkunjung  saat ini kurang tepat, matahari sangat terik menyengat dan pas lagi lucu-lucunya. Waktu menunjukkan pukul 10.30 , terhitung masih pagi sih memang tapi entah kenapa tengkuk dan lengan rasanya sedang  menyala dan sebentar lagi melepuh.  Ahh, benar-benar pintar si pedagang, melihat kami sedang celingak-celinguk kepanasan segera dia menghampiri menawarkan payung untuk disewa. Ya sudah, kami menyerah dan menyewa payung Rp 10,000 per buah.

"The magnificent view from the top"


Biaya Entrance Fee (EF) untuk masuk ke Candi adalah Rp 30,000 per kepala (dewasa) untuk wisatawan Domestik, dan untuk wisatawan mancanegara Rp 190,000 per kepala (dewasa). Memang sangat kontras bedanya, maka tak heran loket tiket Domestik dan Mancanegara terpisah (mungkin) hehe. Oh, satu catatan : apakah saya yang lagi sensi atau memang pegawai loket yg agak judes…yang jelas saya kurang nyaman dengan pelayanan dari pegawai di loket ini, ketika kami datang mereka sibuk dengan gadget dan tidak menyapa sama sekali, kami yang menyapa duluan – sedih ya- semoga hanya kami yang merasakan hal seperti ini. Ya sudahlah, tidak usah diperbesar , anggap saja saya yang lagi sensi.

Setelah melewati loket, untuk sampai ke bangunan Candi masih harus berjalan sekitar kurang lebih 10 menit (dengan jalan santai) melewati taman yang rimbun dengan pohon-pohon dan bunga. Namun meski begitu tetap saja panass. Beberapa meter dari Candi , pengunjung harus menggunakan semacam “sarong” yang diikatkan di pinggang, seperti jika mengunjungi Pura di Bali. Saya tidak sempat menanyakan untuk apa? Tapi asumsi saya , tujuannya kurang lebih sama yaitu sebagai penghormatan terhadap Candi, menggingat Candi Borobudur adalah tempat ibadah dan suci bagi kaum Buddha. Sarongnya gratis , tidak dipungut biaya.

"Berpose dgn Cece di depan salah satu stupa di puncak Candi"
Setelah puas berpoto-poto di area taman, saatnya memasuki Candi. Jadi semua pengunjung masuk dari sebelah/sisi  Timur, menaiki anak tangga dengan kemiringan kurang lebih 70 derajat. Yang membuat saya kagum pertama-tama adalah “penampakan” dari Candi ini sendiri, yang kedua adalah “ relief-relief” yang terpahat didinding Candi yang begitu banyak ,di setiap teras. 

“…Monumen ini (Candi Borobudur) terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[4] Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.[3] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma)…”

Saya sibuk mengagumi dan mencoba memahami - dan lebih kurang ajar lagi -  menerjemahkan  (sok-sok gitu) relief-relief yang terukir di dinding Candi sambil sesekali berdecak kagum. Setelah mengamati relief-reliefnya maka saya menarik kesimpulan terdapat kesamaan satu sama lain atau pengulangan relief-relief di berbagai tempat, namun intinya satu: beberapa orang digambarkan meyembah 1 figur, yaitu Buddha. Binggo! Smart kan gue? *kemudian dijitak guide lokal*

"Seluruh dinding dihiasi dengan relief -relief"
"Sleeping Buddha Relief"
"batu berukir relief"
Setelah bergulat dan bergumul dengan hawa panas, akhirnya kami sampai ke puncak – where we saw stupa(s) and arca(s), from here the view is stunning – Tapi bener deh, disarankan jangan kesini siang-siang atau pas lagi terik. Batu-batu candi berkontribusi “memperpanas” suasana karena memantulkan panas. Lebih pas jika datang lebih pagi, jam 9 gitu. Benar-benar gerah!
"In front of the entrance gate with the family"

"Berpose ber-3 ditengah panas yang luar biasa"
SEKILAS SEJARAH  TENTANG BOROBUDUR

Setelah puas menapaki setiap sudut dan teras Borobudur, terbesit beberapa pertanyaan yang membuat saya penasaran yaitu tentang “asal-usul” candi megah ini. Berhubung kami tidak “menyewa” pemandu maka tidak ada yang bisa memberikan informasi secuil pun. Terpaksa deh surfing di internet. Berikut merupakan  hasil dari “self-research” saya tentang “candi Buddha terbesar di Dunia” ini.

Candi Borobudur , menurut para ahli sejarah dan arkeolog dibangun pada sekitar tahun 770 Masehi. Jika lebih spesifik, tahun 770 Masehi merupakan bahagian dari abad ke-8 ,Millenium I. Abad ke 8, secara global adalah masa dimana – jika anda cari di google--- Olimpiade pertama kali diselenggarakan di Yunani, berdirinya kota Roma dan juga inti daripada pembahasan kita : PERKEMBANGAN PENGARUH (BUDDHA) HINDU DI SUMATERA, JAWA, BALI dan KALIMANTAN.

Sekarang kita mengerucut ke Asia, tepatnya ke Asia Tenggara.  Apa yang terjadi di Asia Tenggara pada abad ke-8?  Abad ke 8 adalah masa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Kejayaan Sriwijaya berkembang sejak abad ke 7, hingga abad ke 12. Dikutip dari Wikipedia:

“…Srivijaya was an important center for the expansion of Buddhism from the 8th to the 12th century..”
( Sriwijaya, merupakan pusat penyebaran agama Buddha pada abad ke-8 sampai ke -12)

Lanjut…..                                                                                                                                                              
“…Srivijaya had a religious, cultural and trade links with the Buddhist PALA EMPIRE of Bengal..”
(Sriwijaya mempunyai hubungan religius, budaya dan perdagangan dengan Kerajaan Pala (penganut Buddha), di Bengal)

Kerajaan Pala (Pala Empire) adalah sebuah kerajaan Buddha yang berada di India. Kerajaan Pala mencakup : India, Bangladesh dan Nepal (pada masa itu). Jadi sangat jelas, bahwa karena hubungan tersebut maka dapat dipastikan hampir seluruh penduduk Srivijaya pada masa itu menganut agama Buddha. Ini didukung dengan banyaknya ditemukan arca-arca Buddha di Palembang yang merupakan pusat kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

"Peta kerajaan Sriwijaya pada abad ke - 8 hingga ke-12"
Kerajaan Sriwijaya terus ber-ekspansi mulai abad ke-7 hingga abad ke-12 mulai dari Palembang, hingga ke seluruh Sumatra, semenanjung Malaya (Malaysia), Jawa dan sampai ke Kamboja.  Kamboja? Ya, Kamboja! Saya belum pernah berkunjung ke Angkor Wat (tapi saya berdoa semoga suatu saat bisa) – dan hanya melihat fotonya saja- akan tetapi dari struktur bangunan candi sangat memiliki kesamaan dengan struktur candi Buddha pada umumnya (khusunya Candi Borobudur dan Candi Prambanan). Bandingkan juga dengan candi-candi yang terdapat di Thailand, Myanmar dll.

Dikatakan bahwa, Jayavarman II yang merupakan raja dari kerajaan Khmer (Kamboja) pada tahun 802-850 dan sekaligus pencetus pembangunan Angkor Wat, pernah menetap di Jawa pada masa pemerintahan dinasti Sailendra, kemudian kembali ke Kamboja setelah Kamboja merdeka dari dominasi kerajaan Sriwijaya (1).  Meski demikian, Angkor Wat dibangun sekitar abad ke 12 atau 300 tahun setelah Candi Borobudur maupun Candi Prambanan.

Untuk informasi lebih spesifik –jika anda tertarik- coba cek di google dengan keyword : JAYAVARMAN II atau ANGKOR WAT

Candi Borobudur ,mulai dibangun pada abad ke-8 yaitu ketika ekpansi kerajaan Sriwijaya telah sampai ke Jawa. Dibawah pemerintahan dinasti Sailendra, candi ini dibangun, diperkirakan memakan waktu sekitar 75-100 tahun dan baru dirampungkan pada masa pemerintahan raja Semaratungga, pada sekitar tahun 825 masehi. Wangsa Sailendra merupakan penganut Buddha Mahayana yang sangat taat. Namun asal muasal Sailendra pun masih  menjadi kontroversi.

Ada versi yang mengatakan bahwa keluarga Sailendra berasal dari Kalinga, INDIA TIMUR. Opini ini didukung oleh salah satu sejarawan India yaitu Nilakanta Sastri dalam salah satu bukunya yang menyatakan bahwa bahwa Sailendra berasal dari India dan kemudian menetap di Palembang sebelum akhirnya pindah ke Jawa pada masa pemerintahan raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayasana (2)

Ada pula versi yang menyatakan bahwa Sailendra sebenarnya berasal dari KAMBOJA. Pada tahun 1934, seorang peneliti berkebangsaan Perancis, George Coedes yang mengabdikan dirinya meneliti tentang sejarah Asia Tenggara mengusulkan adanya keterkaitan antara Sailendra dengan kerajaan Funan di Kamboja. Ini dikarenankan, nama “Sailendra” dalam bahasa saksekerta berarti “ Lord Of Mountain/Mountain Lord” juga dipakai dalam penyebutan raja di kerajaan Funan pada masa itu. Akan tetapi mengenai hal ini, tidak ditemukan bukti yang medukung baik berupa peninggalan tulisan maupun benda (3)

Versi kemudian yang menguatkan opini bahwa Sailendra berasal dari SUMATRA , ditemukan pada prasasti SOJOMERTO (725 C.E) Kab. Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno yang menyebut nama “Dapunta Selendra” yang diyakini  merupakan leluhur dinasti Sailendra. Julukan “Dapunta” dipakai pada raja-raja Sriwijaya kala itu, contoh: Dapunta Hyang Sri Jayasana. (4)

(5) (Sebenarnya) Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya. Waktu pembangunannya diperkirakan , berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun pada tahun 800 masehi, dimana kurun waktu ini adalah masa puncak kejayaan dinasti Sailendra di Jawa Tengah.

PENEMUAN DAN PEMUGARAN

Candi Borobudur ,terkubur selama ber-abad abad dibawah gundukan abu vulkanik dan hutan belantara. Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365 oleh Mpu Prapanca (samaran) dalam naskah “Nagarakretagama” yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebut “Wihara di Budur”. Tidak diketahui alasan Candi Borobudhur ditelantarkan.

Pada tahun 1814, Gubernur Jendral Inggris Thomas Stamford Raffles , yang memiliki minat khusus tentang sejarah Jawa ,mendapatkan informasi dari penduduk lokal di Semarang mengenai adanya monumen besar jauh didalam hutan didekat desa Bumisegoro. Dia kemudian mengutus 200 anak buahnya dipimpin insinyur Cornelius untuk mencari monumen yang dimaksud.  Mereka menebangi pepohonan dan semak belukar digundukan bukit Borobudur dan membersihkan tanah yang mengubur candi itu.

Hartmann, pejabat pemerintah Hindia Belanda di keresidenan Kedu, meneruskan pekerjaan Cornelius pada tahun 1835 hingga seluruh bagian candi dapat terlihat. Namun ia tidak menulis laporannya dan tidak dipublikasi. Pemerintah Belanda kemudian menugaskan F.C Wilsen dan J.F.G Brumund , untuk melakukan penelitian lebih rinci dan detail  mengenai candi ini dan dirampungkan pada tahun 1859.

Pada tahun 1900-1902, Pemerintah Belanda membentuk komisi untuk merestorasi candi Borobudur untuk mencegah candi Borobudur dari kerusakan. Pemugaran baru dieksekusi pada kurun tahun 1907-1911 yang dipimpin oleh Theodore Van Erp. Proses pemugaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda tidak maksimal karena keterbatasan biaya. Pada akhir tahun 1960-an , Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan kepada masyarakat Internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi candi Borobudur. Pada kurun waktu 1973-1984, Indonesia dibantu UNESCO melaksanan proyek besar “PEMUGARAN CANDI BOROBUDUR” . AKhirnya pada tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai “warisan Dunia” oleh UNESCO.

"Didepan prasasti pemugaran Candi Borobudur oleh UNESCO , diresmikan oleh Presiden Soeharto"

KESIMPULAN
  • Dari paparan dari berbagai sumber seperti tertulis diatas, saya menyimpulkan bahwa Dinasti Sailendra  berperan penting dalam kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 7 hingga abad ke 12.
  • Tidak jelas, nama raja yang membangun Candi Borobudur mula-mula,apa kegunaannya, hanya disebutkan dibangun oleh Dinasti Sailendra dan dirampungkan pada pemerintahan Semaratungga.
  • Tidak jelas kenapa Candi ditelantarkan selama ber-abad abad
  • Saya (pribadi) ber-terima kasih kepada Pemerintah Hindia Belanda  (walaupun status mereka sebagai “penjajah” atau “komfeni” kelas “kakap”) yang telah menemukan Candi Borobudur ini. Kalau bukan mereka, apakah kira-kira kita bisa menemukan Candi Borobudur? Mugkin YA, mungkin juga TIDAK

Untuk informasi lebih detail tentang CANDI BOROBUDUR dan informasi-informasi terkait , dapat anda temukan di google dengan keyword : SRIVIJAYA KINGDOM, CANDI BOROBUDUR, SAILENDRA dsb.

Selamat membaca dan menelusuri sejarah Nusantara kita J.

CATATAN REFERENSI :


No comments:

Post a Comment

Bagaimana pendapat anda tentang postingan ini?